..:: klik untuk One 4 Share versi mobile ::.. ..:: Di sini, Rp 10.000,- bekerja untuk Anda ::..
Showing posts with label muskuloskeletal. Show all posts
Showing posts with label muskuloskeletal. Show all posts

Wednesday, June 16, 2010

Waspadai Nyeri Pantat [ Sindroma Piriformis | Piriformis Syndrome ]



Sampai saat ini, belum ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan sindroma piriformis. Beberapa ahli percaya bahwa sindroma piriformis / piriformis sindrom adalah sebutan untuk nyeri pada pantat / paha yang belum didiagnosis secara tepat ( jadi semacam keranjang sampah seperti halnya frozen shoulder ). Akan tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa sindroma piriformis merupakan gangguan yang nyata yang menyebabkan nyeri dan disability (Cluett, 2004).

Piriformis sebenarnya adalah nama otot yang terletak di belakang / sebelah posterior sendi panggul (hip joint). Otot piriformis sendiri merupakan sebuah otot kecil bila dibandingkan dengan otot-otot tungkai yang lain. Fungsi otot piriformis ini adalah sebagai penggerak aktif gerakan external rotasi sendi panggul ( hip joint) (Cluett, 2004). Selain itu otot piriformis juga berfungsi dalam menjaga keseimbangan ketika salah satu kaki terangkat dan sebagai stabilisator aktif daerah pelvic (Maggs, 2010).

Otot piriformis di inervasi oleh n. sciatic / n. ischiadicus (salah satu nervus terbesar tubuh manusia yang menginervasi ekstremitas bawah). Tendon otot Piriformis dan n. ischiadicus saling bersilangan di posterior sendi panggul, di bagian dalam pantat ( cluett, 2004). Atau dengan kata lain otot piriformis ini berada di bawah (di sebelah anterior) otot gluteus maximus.






Pada sindroma piriformis, terjadi semacam penjepitan n. ischiadicus oleh otot piriformis, sehingga menyebabkan n. ischiadicus teriritasi. Hal tersebut terjadi apabila otot piriformis memendek, sehingga n.ischiadicus terjebak. Akibatnya aliran / suplai darah ke . ischiadicus pun terhambat, sedangkan iritasi terjadi akibat tekanan oleh otot piriformis tersebut ( Cluett, 2004).

Maggs (2010) berpendapat bahwa salah satu penyebab sindroma piriformis adalah cedera. Otot piriformis sangat rentan untuk terjadi cedera berulang akibat gerakan (repetitive motion injury / RMI). RMI terjadi apabila otot bekerja diluar kemampuannya, atau tidak diberi cukup waktu untuk fase recovery, akibatnya, otot menjadi memendek (Maggs, 2010)

Gejala sindroma piriformis antara lain:
Pertama, nyeri di dalam dan di sekitar tulang panggul (Hip). Pemendekan otot meningkatkan tekanan diantara tendon dan tulang, sehinggga secara langsung terjadi ketidaknyamanan dan nyeri. Atau dapat juga hal tersebut menyebabkan bursitis (Maggs, 2010)
Kedua, nyeri pada bagian tengah pantat / bokong. Nyeri ini dapat di picu dengan memberikan tekanan pada daerah pantat (Maggs, 2010).
Ketiga, sindroma piriformis mungkin terjadi akibat ischialgia (Maggs, 2010).


Sindroma Piriformis juga sering disebut “deep buttock pain”. Hal itu karena nyeri yang di arasakan penderita berada jauh di dalam pantat. Penyebab lain yang dapat mengakibatkan nyeri tersebut antara lain karena masalah yang terjadi pada spinal ( tulang belakang), termasuk di dalamnya HNP, spinal stenosis, dsb. Selain itu juga dapat terjadi akibat tendonitis (Cluett, 2004)

Diagnosis sindroma piriformis diberikan apabila semua diagnosis tersebut tidak sesuai sebagai penyebab nyeri. Tanda-tanda lain dari sindroma piriformis dapat diketahui dengan pemeriksaan khusus untuk mengisolasi fungsi otot piriformis, dan mencari hal-hal yang menyebabkan nyeri pada otot piriformis (Cluett, 2004).


Sedangkan diagnosis Fisioterapi, impairment pada sindroma piriformis antara lain nyeri, spasme otot piriformis, pemendekan otot piriformis. Tiga hal tersebut, Nyeri , spasme dan pemendekan otot piriformis saling terkait satu sama lain sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tentang nyeri sendiri dapat di baca di NYERI (PAIN). Selain tiga hal tersebut, apabila n. ischiadicus terjadi cedera, maka akan dapat menimpulkan gangguan baik motorik mapun sensorik area-area yang diinervasi oleh n. ischiadicus. Hal tersebut tentunya tergantung bagian mana yang mengalami cedera.

Limitasi fungsi akibat sindroma piriformis sendiri terjadi sebagai akibat langsung dari pemendekan otot piriformis, diantaranya kurangnya lingkup gerak sendi external rotasi hip. Di samping itu juga bias merupakan akibat tak langsung dari nyeri, dimana secara psikologis penderita nyeri akan membatasi / mengurangi aktivitas atau geraknya, sehingga berakibat pada fungsi ekstremitas bawah.

Penanganan Fisioterapi pada Sindroma Piriformis dapat menggunakan berbagai modalitas Fisioterapi untuk meringankan keluhan nyeri, dan sejauh mungkin mengatasi penyebab sindroma piriformis sendiri. Mengatasi penyebab sindroma piriformis, dalam hal ini yang dimaksud adalah penyebab berupa spasme dan pemendekan otot piriformis seperti dijelaskan di atas. Modalitas Fisioterapi yang dapat digunakan antara lain adalah Short wave diathermy (SWD), TENS, Ultra sound (US), massage (transfers friction), terapi latihan ( stretching otot piriformis), dsb.


Referensi:
Cluett, J. 2004. Piriformis Syndrome. http://www.about.com
Maggs, T.J. 2010. Piriformis Syndrome. http://www.spineuniverse.com


Disusun oleh : Rohmat Saputro Wibowo
Untuk mengutip artikel ini:
Wibowo, R.S., 2010. Sindroma Piriformis / Piriformis Syndrome. http://one4share.blogspot.com/




PEMERIKSAAN FISIOTERAPI PADA RUPTUR TENDI ACHILLES

pemeriksaan Fisioterapi RUPTUR TENDO ACHILLES
Anamnesis:
• Keluhan
- Nyeri di daerah pergelangan kaki, kadang hingga ke betis dan kaki
- Tidak dapat atau kurang mampu menggerakan kaki (terutama gerakan plantar fleksi)
- Kaku di pagi hari



Inspeksi
• Pembengkakan di daerah pergelangan kaki
• Deformitas / perubahan bentuk

Palpasi

Palpasi Ankle• Lokasi Tenderness / nyeri tekan, di tendo achilles
• Temperatur lokal
• Spasme otot? Terutama m. gastrocnemius






***

***


Pemeriksaan khusus

• Thompson’s test
thompson's test












• Squeeze test
Squeeze test












Pemeriksaan fungsional

Pemeriksaan fungsional dasar
• Calf raises (jinjit dengan kedua kaki)
• Single calf raise (jinjit dengan satu kaki)



Lain-lain (berkaitan dengan evaluasi)
• Nilai nyeri
Perlu diukur 3 jenis nilai nyeri, nyeri diam, nyeri gerak dan nyeri tekan. Penilaian dapat menggunkan VDS, VAS, maupun NRS.

• Lingkup Gerak Sendi
Dapat menggunakan goneometer, baik pasif maupun aktif. Nilai LGS normal dorsi-plantar flexi : S 20-0-45

• Kekuatan otot (MMT)
Perlu mengukur nilai kekuatan group otot dorsal flexor, plantar flexor, inversor, dan eversor.





Monday, April 19, 2010

Acute Pain Management (5)

Interventions for Acute Musculoskeletal Pain
In addition to initial interventions such as providing information, assurance and advice to maintain reasonable activity levels, other options (non-pharmacological and pharmacological) exist for the management of acute musculoskeletal pain.

Non-pharmacological Interventions
Evidence for the effectiveness of a range of additional nonpharmacological (i.e. not involving medication) interventions for people with acute musculoskeletal pain is provided in the specific guideline topics. These include active, passive and behavioural therapies. Non-pharmacological interventions may be used in conjunction with pharmacological interventions (NHMRC 1999).

***




***

Pharmacological Interventions
Simple Analgesics (Non-Opioid)
Paracetamol is considered an effective medication for mild to moderate pain and can be used in conjunction with opioids to manage more severe pain.
Generally, paracetamol has few side effects. Paracetamol is contraindicated for people with liver dysfunction. It can be used when NSAIDs are contraindicated. Patients should be warned of the risk of liver damage with the combination of alcohol and paracetamol.

Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs)
NSAIDs are considered effective in the management of mild to moderate pain. Concurrent use of opioids and NSAIDs may provide more effective analgesia than either of the drug classes alone. They may also reduce the side effects of opioid medications (NHMRC 1999).
The adverse effects of NSAIDs are potentially serious and all people cannot use them. NSAID use may result in gastro intestinal bleeding, renal dysfunction (particularly in older people), NSAID-induced asthma and impaired blood clotting.
It is imperative that contraindications are identified and respected (e.g. asthma, peptic ulcer) (NHMRC 1999). More recently, Cox-2 selective NSAIDs have become available. Evidence for their efficacy in a number of rheumatological
disorders has been demonstrated. Currently they are not subsidised for acute musculoskeletal pain in Australia.


Pharmacological Interventions
Simple Analgesics (Non-Opioid)
Paracetamol is considered an effective medication for mild to moderate pain and can be used in conjunction with opioids to manage more severe pain.
Generally, paracetamol has few side effects. Paracetamol is contraindicated for people with liver dysfunction. It can be used when NSAIDs are contraindicated. Patients should be warned of the risk of liver damage with the combination of alcohol and paracetamol.

Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs)
NSAIDs are considered effective in the management of mild to moderate pain. Concurrent use of opioids and NSAIDs may provide more effective analgesia than either of the drug classes alone. They may also reduce the side effects of opioid medications (NHMRC 1999).
The adverse effects of NSAIDs are potentially serious and all people cannot use them. NSAID use may result in gastro intestinal bleeding, renal dysfunction (particularly in older people), NSAID-induced asthma and impaired blood clotting. It is imperative that contraindications are identified and respected (e.g. asthma, peptic ulcer) (NHMRC 1999).
More recently, Cox-2 selective NSAIDs have become available.
Evidence for their efficacy in a number of rheumatological disorders has been demonstrated. Currently they are not subsidised for acute musculoskeletal pain in Australia.

Opioid Analgesics
Opioid analgesics bind to opioid receptors both within and outside the central nervous system and are used for management of severe pain. All opioid medications have the potential to cause side effects including constipation, urinary retention, sedation, respiratory depression, nausea and vomiting. Titration of medication should occur to optimise the response to the analgesic and to minimise side effects. The following points are highlighted in the NHRMC (1999) acute pain guidelines:
True allergy to opioids is uncommon; people may have side effects that are mistakenly referred to as ‘allergies’. There is no evidence that the use of opioids for the treatment of severe acute pain leads to dependence on, or addiction to, opioid medications.
The dosage should be tailored to each individual and the need for pain relief considered of greater importance than adhering strictly to a specific dose interval.

Muscle Relaxants
Muscle relaxants have the potential for side effects and show some short-term benefit in studies for low back pain. (Bigos et al. 1994; van Tulder et al. 1997).

Adjuvant Agents
There is no evidence to support the use of adjuvant agents, including antidepressants, anticonvulsants and oral corticosteroids, in the treatment of acute musculoskeletal pain.


Acute Pain Management (4) <||> Acute Pain Management (1)


taken from:
Australian Acute Musculoskeletal Pain Guidelines Group;2003; Evidence-based Management of Acute Musculoskeletal Pain; Bowen Hills: Australian Academic Press Pty. Ltd.

Acute Pain Management (4)

Pain Management
Von Korff (1999) demonstrated that people in pain want to: know what the problem is; be reassured that it is not serious; berelieved of their pain; and receive information. People in pain want advice regarding the management of their pain, including non-pharmacological and pharmacological interventions. They also want advice on how to return to normal activity.

Patients may lack current knowledge of interventions for pain management. For instance, they may believe that xrays
will determine the cause of their pain and that bed rest is indicated. It is important to satisfy the need for knowledge, alleviate fear and to focus on preventing disability due to pain (Main 2002). The use of a preventive approach to shape behaviour is best done at the initial visit. This is particularly important in acute musculoskeletal pain, which may recur.

The following is a suggested framework to manage acute musculoskeletal pain:
1. Elicit a pain history in a biopsychosocial context.
2. Assess for clinical features (‘red flags’) of serious conditions including serious systemic illness, fracture, tumour and infection. If such features are present, further investigation or referral is warranted.
3. Assess for the presence of psychosocial and occupational factors (‘yellow flags’) that may affect the presentation of acute pain, response to treatment and influence the risk of progression to chronic pain.
4. Provide information on the prognosis of acute musculoskeletal pain and discuss options for pain management (pharmacological, non-pharmacological and activity).
5. Develop a management plan in conjunction with the patient, fostering a cooperative environment and reinforcing the importance of self-management.


***




***


Pain Management Plan

The management plan should be tailored to meet the needs of each patient, taking their preferences and abilities into account. It is important to ensure that the patient understands what is involved to facilitate their participation.

Management plans are designed to assist progress through an episode of acute pain and the return to normal function. The plan should include actions that the consumer and clinician may take in the event of an exacerbation or recurrence of pain or slow progress to recovery. The plan should enable the individual to take responsibility for his or her own rehabilitation (bearing in mind that some people will require greater levels of support and assistance) or to seek help from a clinician if necessary.

There are three phases of the management plan:
Assessment
Management
Review



Assessment
A history and physical examination are conducted to assess whether clinical features of serious conditions (‘red flags’) are present and to identify psychosocial and occupational factors (‘yellow flags’) that may influence recovery.
Ancillary investigations are not generally indicated unless features of serious conditions are identified.
In cases where features of serious conditions are present, an alternative plan of management is required.

Management
Provide information — consumers seek an explanation and information about the nature of their pain. The clinician
should use effective communication techniques and use appropriate terms to describe acute musculoskeletal pain.
Provide assurance — the natural history of acute musculoskeletal pain is generally favourable; thus, epidemiological data serves as the basis for assurance that recovery can be expected. Information on the prognosis and the provision of assurance is an integral part of the management plan.
Provide advice to remain active — activity should be encouraged; resumption of normal activity should occur as soon as possible. For each of the conditions covered by these guidelines, activation is a seminal intervention for restoring function and avoiding disability.
Discuss other options for pain management including the addition of non-pharmacological and pharmacological interventions to the management plan to assist return to normal activity. A combination of measures may be used.

The clinician should provide information on the options available, what they are designed to achieve and describe
potential risks and benefits. It is important not to overstate the power of interventions to avoid unrealistic xpectations.
It is also important to avoid the assumption that consumers expect medication each time they visit. On the contrary, any do not want their consultation ended prematurely by the writing of a prescription.


Review
Prescription of a single, one-step intervention is unlikely to be successful. The plan may be iterative, requiring small
amendments or major changes. On subsequent visits, the clinician should enquire whether the plan has been satisfactory and explore questions, concerns and possible alternatives as required. Further explanation and assurance can be provided.
Ongoing review provides an important opportunity to assess for features of serious conditions and psychosocial
factors that may not have been evident on previous visits and to intervene as required.
Review also demonstrates concern that progress has been made. This is particularly important when there was intense pain and distress at the initial presentation. The need for further visits can be discussed at each consultation.

Acute Pain Management (3) <||> Acute Pain Management (5)


taken from:
Australian Acute Musculoskeletal Pain Guidelines Group;2003; Evidence-based Management of Acute Musculoskeletal Pain; Bowen Hills: Australian Academic Press Pty. Ltd.


Sunday, April 11, 2010

Acute Pain Management (2)

Acute Pain

The term ‘acute pain’ refers to pain that has been present for less than three months (Bonica 1953; Merskey 1979). Successful management of pain in the acute phase is essential to prevent transition to chronic pain, which presents a significant individual, social and financial burden. Chronic pain is pain that has been present for longer than three months (Merskey and Bogduk 1994).

The NHMRC (1999) cites a number of misconceptions about the management of acute pain, including a lack of understanding of the pharmacokinetics of analgesics, mistaken beliefs about addiction, poor knowledge of dosage requirements, concerns about side effects and the concept that pain is not harmful.

***




***

Factors Influencing the Progression from Acute to Chronic Pain

Individuals vary in their potential to develop chronic pain. A combination of behaviours, beliefs and emotions may be involved in the transition from acute to chronic pain (Linton 2002). When pain is unrelieved over time, or if there are recurrent episodes of pain, persistent pain may develop.

The development of chronic pain is likely to be the result of small, cumulative changes in lifestyle that have been made to cope with acute musculoskeletal pain (Linton 2002). The intensity, duration and character of the pain influence the psychosocial response and the psychosocial response in turn influences the course of events.

There is strong evidence that psychosocial factors at work (i.e. occupational factors) are tied to the development of chronic pain. Job satisfaction may protect against the progression from acute low back pain to chronic low back pain. It is essential to identify those at risk of developing chronic pain and to intervene early to prevent this occurrence.




taken from:
Australian Acute Musculoskeletal Pain Guidelines Group;2003; Evidence-based Management of Acute Musculoskeletal Pain; Bowen Hills: Australian Academic Press Pty. Ltd.


Wednesday, February 24, 2010

Waktu optimal TENS untuk pengurangan nyeri pada OA lutut

Osteoarthritis (OA) adalah salah satu bentuk arthritis yang paling sering terjadi (memiliki angka prevalensi yang tertinggi dibandingkan jenis arthritis lain). Sebagian besar penderita OA adalah para lansia dengan usia 65 tahun keatas terutama OA lutut.

Terapi yang efektif untuk menangani nyeri (yang biasanya merupakan keluhan utama penderita OA) akan dapat meningkatkan kualitas mobilitas penderita. Salah satu modalitas Fisioterapi untuk mengontrol nyeri yang sering diaplikasikan adalah TENS. TENS dalam berbagai penelitian telah terbukti efektif menurunkan nyeri pada penderiata OA lutut, tapi beberapa hasil penelitian masih kontroversial.





***









***



Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, ternyata masih belum diketahui berapa waktu terapi yang optimal pengaplikasian TENS pada penderita OA lutut. Dalam peneltian sebelumnya waktu yang digunakan bervariasi antara 30 hingga 60 menit per hari.

Cheing et al (2003) dalam penelitiannya membahas hal tersebut (waktu yang paling efektif untuk pengaplikasian TENS pada penderita OA lutut). Cehing et al (2003) membandingkan empat model pengaplikasian TENS yaitu TENS dengan lama pengaplikasian 20 menit, 40 menit, 60 menit dan TENS plasebo. TENS yang digunakan berupa TENS konvensional dengan frekuensi 100 pps, durasi pulsa 200 mikrosecon, dengan penempatan electrode pada titik-titik akupuntur di daerah lutut.

Hasil penelitian Cheing et al (2003) tersebut adalah bahwa TENS konvensional pada penderita OA lutut paling efektif (waktu optimal) diaplikasikan selama 40 menit.



Baca (download):

Cheing, G. L. Y. et al, 2003, Optimal Stimulation Duration of TENS In The Management of Ostheoarthritic Knee Pain, J Rehabil Med 35: 62–68







Sunday, January 31, 2010

Latihan Isometrik Bahu

Latihan Isometrik adalah suatu latihan yang dilakukan dengan kontraksi otot secara Isometrik ( kontraksi Isometrik ). Kontraksi otot deibedakan menjadi 2, yaitu kontraksi isotonik (dimana terjadi perubahan panjang otot, tapi tidak pada tonus ototnya) dan kontraksi isometrik (terjadi perubahan tonus otot, tapi tidak terjadi perubahan panjang otot). Selengkapnya untuk memahami cara kerja otot dapat dibaca di "MEKANISME KERJA OTOT".

Latihan isometrik diantaranya bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan otot (sejauh ini yang terbukti adalah meningkatkan kekuatan otot statis ) serta mengurangi nyeri. Latihan isometrik bahu tentu saja ditujukan untuk meningkatkan kekuatan otot-otot bahu dan mengurangi keluhan nyeri di daerah bahu (salah satunya frozen shoulder).
***




***

Berikut adalah "latihan isometrik bahu"

Silakan mendownload "latihan isometrik bahu" dengan me-klik link di atas. Secara garis besar, latihan isometrik bahu ini di lakukan dengan posisi berdiri Tidak ada peralatan khusus yang dibutuhkan, akan tetapi pada ilustrasi di atas memanfaatkan tembok dan sebuah bantal untuk melakukan latihan.


catatan Penting:
*anda dapat mencetak (print) petunjuk "latihan isometrik bahu"
*pada petunjuk tertulis "kanan / kiri", maksudnya adalah tangan / lengan yang perlu dilatih, yaitu sisi yang mengalami permasalahan.

download petunjuk "latihan isometrik bahu"

apabila kurang jelas, silakan berkomentar di bawah.




Wednesday, January 27, 2010

Owestry Low Back Pain Quistionnaire

Owestry Low Back Pain Quistionnaire atau yang lebih umum disebut "skala Owestry" digunakan untuk menilai pengalaman penderita nyeri punggung bawah / nyeri pinggang / low back pain. Sesuai dengan namanya, Owestry Low Back Pain Quistionnaire ini berupa kuisioner yang sederhana. Pengisiannya oleh penderita yang akan dinilai, yaitu dengan menandai poin-poin yang paling menggambarkan keadaannya.

***




***

Berikut adalah Owestry Low Back Pain Quistionnaire (silakan didownload)

Skala Jette

Skala Jette digunakan untuk mengevaluasi nyeri, tingkat kesulitan serta kemandirian penderita OA ( osteoarthritis ) lutut dalam aktivitasnya sehari- hari.

***




***
Untuk lebih jelasnya silakan download: "Skala Jette"


Friday, January 22, 2010

Tennis Elbow

This condition (Tennis Elbow) plagues many a racquet sports player and has been described for over a century, originally being named lawn tennis arm. It is also called lateral epicondylitis. It is certainly not confined to tennis players and can occur with a wide range of activities from carrying groceries to keyboard & mouse use. It must be carefully differentiated from other conditions, which also cause pain around the outside of the elbow.

WHERE IS THE PAINWHERE PAIN?
This injury is an inflammation at the elbow attachment of the muscles, which bend the wrist and fingers backwards. These muscles originate from the bony point on the outside of the elbow and they are strongly activated to stabilize the wrist with any gripping motion. When load onthe muscles becomes more than they can resist, microscopic tears of the tendon can result. These tears cause inflammation that results in sharp pain on the outside of the elbow or in the forearm muscles with any gripping, lifting or carrying activity.

***




Get full information in this leaflet

Monday, January 11, 2010

HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELENTUKAN PERGELANGAN KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA BAGI PEMAIN KLUB IN

HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN KELENTUKAN
PERGELANGAN KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING
BOLA PADA PERMAINAN SEPAKBOLA BAGI PEMAIN
KLUB INVESTINDO PURBALINGGA TAHUN 2004


AJI DWI PRASETYO


Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan keterampilan menggiring bola, 2) mengetahui hubungan antara kelentukan pergelangan kaki dengan keterampilan menggiring bola, dan 3) mengetahui hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelentukan pergelangan kakai dengan keterampilan menggiring bola.
Populasi dalam penelitian ini adalah pemain Klub Investindo Purbalingga sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling, sehingga semua pemain Klub Investindo Purbalingga dijadikan sebagai sampel penelitian. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu keterampilan menggiring bola dan variabel bebasnya adalah kekuatan otot tungkai dan kelentukan pergelangna kaki. Data diambil melalui teknik tes dan pengukuran. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi dan korelasi sederhana maupun ganda.

***




***
Hasil analisis korelasi diperoleh hasil: (1) ada hubungan kekuatan otot tungkai terhadap hasil keterampilan menggiring bola, diperoleh koefisien korelasi 0,724 dengan probabilitas 0,000 < 0,05. Dengan demikian menunjukkan bahwa kekuatan otot tungkai berhubungan secara signifikan dengan keterampilan menggiring bola, (2) ada hubungan antara kelentukan pergelangna kaki dengan keterampilan menggiring bola, diperoleh koefisien korelasi 0,668 dengan probabilitas 0,000 < 0,05. Dengan demikian menunjukkan bahwa kelentukan pergelangan kaki berhubungan secara signifikan dengan keterampilan menggiring bola, (3) ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dan kelentukan pergelangan kaki terhadap hasil keterampilan menggiring bola adalah 0,761 dengan probabilitas 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan otot tungkai dan kelentukan pergelangan kaki berhubungan secara signifikan terhadap hasil keterampilan menggiring bola.
Saran yang dapat penulis ajukan berdasarkan temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah para pelatih hendaknya menekankan program-program latihan dalam rangka meningkatkan kekuatan dan kelentukan pergelangan kaki sehingga dapat menggiring bola dengan baik, melalui latihan penguluran dan peregangan otot untuk kelentukan peregangan kaki serta latihan weight training untuk kekuatan otot tungkai secara sistematis dan teratur dengan peningkatan beban latihan sedikit demi sedikit.

Download pdf
jika tidak bisa, silakan klik DI SINI

sumber : http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH01ab/5f83b52e.dir/doc.pdf



Wednesday, September 30, 2009

Golf injury

Golf is a popular sport and offers a range of health benefits. Regular golf can help improve stamina, cardiovascular fitness and muscular endurance. For example, the average golfer playing an 18-hole game walks about seven kilometres.

While the risk of injury from playing golf is low compared to other sports, common golf injuries include injuries to the lower back, shoulder, elbow, wrist, head and eye.


Risk factors

Some of the factors that can increase your risk of injury include:

Time spent playing — generally, the more often you play, the higher your risk of injury. Golfers who spend more than six hours per week in competitive play are at increased risk of overuse injuries, as are professional golfers.

Unsupervised children — injuries to children under the age of 10 years are often the result of inadequate adult supervision: for example, children getting hit in the face by swinging clubs.

Incorrect technique — examples include poor swing style and hitting the ground instead of the ball. Incorrect technique dramatically increases the risk of injury. Golfers who perform correct technique are less likely to injure themselves.

Failure to warm up and cool down — warming up and cooling down are extremely important to reduce the risk of muscle and joint injuries.

Previous injury — golf can aggravate existing injuries.

***



***

General health and safety suggestions
Suggestions include:
  • Make sure equipment, such as clubs and shoes, are professionally fitted.
  • Be sun smart. Wear a broad-brimmed sunhat and use sunscreen factor 30+ on all exposed skin. Sunscreen and insect repellent should be carried in your golf bag at all times.
  • Drink non-alcoholic fluids before, during and after the game. Take drinks with you in your golf bag to avoid dehydration during play.
  • Practice the rules and etiquette of the game; for example, make sure that no one is standing too close when you’re about to swing and always call out ‘fore’ to warn others before you take your shot.
  • Obey all safety instructions when driving a motorised golf cart.
  • Postpone play if lightning strikes are possible.
  • Avoid placing hands in holes / areas where spiders or other dangerous insects might inhabit.
  • Supervise young children on the golf course at all times. For example, make sure they don’t stand too close when someone is teeing off and don’t allow them to fool around with golf clubs.
  • Ensure adequate rest between games.
  • Carry a mobile phone, wherever possible, in case of emergency.


Warming up is very important

Muscle strains and sprains are more likely to occur if you fail to warm up properly before play. A study of golfers undertaken by the Sports Injury Prevention Unit at Deakin University, Victoria, found that less than three per cent of Victorian golfers warm up properly, while nearly half don’t warm up at all. Suggestions include:
  • Walk briskly for a couple of minutes to raise your heart rate.
  • Warm up your neck and upper back by dropping your chin to your chest, gently rolling your head from side to side in slow half-circles.
  • Warm up your shoulders. Hold a golf club horizontal to the ground, keeping your hands about shoulder width apart. Slowly raise the club overhead, hold for a few moments, and lower. Hold the golf club in a similar way but this time behind your back. Raise as high as you can, hold for a few moments, then lower.
  • Warm up your torso with side bends. Slide your hand down your leg to support the weight of your torso.
  • Twist through the waist; gently and slowly turn from one side to the other.


Disclaimer
Physiotherapy and you articles are provided for general information only and should in no way be considered as a substitute for the advice and information your physiotherapist will supply about your particular condition.
While every effort has been made to ensure that the information is accurate, the Australian Physiotherapy Association and the authors and the editors of the articles in this magazine and on this web site accept no responsibility and cannot guarantee the consequences if patients choose to rely upon these contents as their sole source of information about a condition and its rehabilitation.


taken from: http://physiotherapy.asn.au/index.php/physiotherapy-a-you/sports-injuries/golf-injury

Saturday, August 29, 2009

Penanganan pada Kasus Fraktur Terbuka

PENANGANAN FRAKTUR TERBUKA


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan trauma, baik trauma langsung maupun tidak langsung. Akibat dari suatu trauma pada tulang dapat bervariasi tergantung pada jenis, kekuatan dan arahnya trauma ( Apley & Solomon, 1993; Rasjad, 1998; Armis, 2002).

Fraktur terbuka adalah fraktur yang terjadi hubungan dengan dunia luar atau rongga tubuh yang tidak steril, sehingga mudah terjadi kontaminasi bakteri dan dapat menyebabkan komplikasi infeksi.
Semua faktur terbuka harus dianggap terkontaminasi sehingga mempunyai potensi untuk terjadi infeksi. Penting untuk diketahui bahwa diagnosis, klasifikasi dan pengelolaannya dapat berbeda dari fraktur tertutup. Penanganan fraktur terbuka dapat mengikuti pengelolaan trauma lain jika merupakan suatu trauma multipel

Pada fraktur tulang dapat terjadi pergeseran fragmen-fragmen tulang. Pergeseran fragmen bisa diakibatkan adanya keparahan cedera yang terjadi, gaya berat maupun tarikan otot yang melekat padanya. Pergeseran fragmen fraktur akibat suatu trauma dapat berupa aposisi (pergeseran kesamping / sideways, tumpang tindih dan berhimpitan / overlapping, bertubrukan sehingga saling tancap/ impacted); angulasi (penyilangan antara kedua aksis fragmen fraktur); panjang / length (pemanjangan atau pemendekan akibat distraction atau overlapping antar fragmen fraktur) atau terjadi rotasi (pemuntiran fragmen fraktur terhadap sumbu panjang).

Hubungan garis fraktur dengan energi trauma

Garis Fraktur Mekanisme trauma Energi
Transversal, oblik, spiral, (sedikit bergeser / masih ada kontak) Angulasi / memutar Ringan
Butterfly, transversal (bergeser), sedikit kominutif Kombinasi Sedang
Segmental kominutif (sangat bergeser) Variasi Berat


Klasifikasi Fraktur Terbuka


Dikenal beberapa klasifikasi fraktur terbuka seperti menurut Byrd et al.(1981) yang menekankan pentingnya vaskularisasi tulang, kemudian menurut Oestern dan Tscherne (1984) yang menekankan pentingnya tingkat kerusakan jaringan lunak dan luas kontusio otot, serta menurut AO group oleh Muller et al. (1990) yang menekankan berat ringannya cedera kulit, cedera otot dan tendon serta cedera neurovaskuler. (cit. Court-Brown et al, 1996).

Klasifikasi fraktur terbuka paling sering digunakan menurut Gustillo dan Anderson (1976), yang menilai fraktur terbuka berdasarkan mekanisme cedera, derajat kerusakan jaringan lunak, konfigurasi fraktur dan derajat kontaminasi. Klasifikasi Gustillo ini membagi fraktur terbuka menjadi tipe I,II dan III


***




***

Klasifikasi Fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson ( 1976 )

Tipe Batasan
I Luka bersih dengan panjang luka <> 1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
III Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental terbuka, trauma amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi, fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang perlu repair vaskuler dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian.


• Tipe I berupa luka kecil kurang dari 1 cm akibat tusukan fragmen fraktur dan bersih. Kerusakan jaringan lunak sedikit dan fraktur tidak kominutif. Biasanya luka tersebut akibat tusukan fragmen fraktur atau in–out.
• Tipe II terjadi jika luka lebih dari 1 cm tapi tidak banyak kerusakan jaringan lunak dan fraktur tidak kominutif.
• Pada tipe III dijumpai kerusakan hebat maupun kehilangan cukup luas pada kulit, jaringan lunak dan putus atau hancurnya struktur neurovaskuler dengan kontaminasi, juga termasuk fraktur segmental terbuka atau amputasi traumatik.

Klasifikasi ini juga termasuk trauma luka tembak dengan kecepatan tinggi atau high velocity, trauma didaerah pertanian, fraktur terbuka yang memerlukan repair vaskular, fraktur terbuka lebih 8 jam setelah kecelakaan

Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson (1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC (tabel 3).
IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.
IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.
IIIC terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.
Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984):


Tipe Batasan
IIIA Periosteum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
IIIB Kehilangan jaringan lunak yang luas, kontaminasi berat, periosteal striping atau terjadi bone expose
IIIC Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat kerusakan jaringan lunak.


Armis (2001) membuat klasifikasi fraktur terbuka dengan sistim skoring yang dinamakan Sistem Skoring Sardjito (SSS) yang dilakukan dengan memberikan skoring pada setiap variabel yang meliputi kerusakan kulit, kerusakan otot, kondisi tulang, kondisi neurovaskuler dan derajat kontaminasi kemudian skor dijumlahkan


Klasifikasi fraktur terbuka sesuai Sistem Skoring Sardjito (Khairuddin & Armis, 2002).
Batasan => skor
I. Skin Damage
A.Wound:
Ø < score ="15+1="16)">1cm tapi tak banyak kerusakan jaringan lunak dan fraktur tak kominutif.

Derajat III
Kerusakan hebat pada kulit, jaringan lunak dan struktur neurovascular dengan kontaminasi,
III A fragmen tulang masih dibungkus jaringan lunak,
III B fragmen tulang tak dibungkus jaringan lunak terdapat pelepasan lapisan periosteum, fraktur kominutif,
III C trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar bagian distal dapat dipertahankan, terjadi kerusakan jaringan lunak hebat.

Trauma high-velosity termasuk klasifikasi IIIB atau IIIC walaupun lukanya kecil tapi terjadi kerusakan jaringan lunak dibawahnya sangat hebat. Insidensi infeksi derajat I 2% dan derajat II 10%.

sumber :
http://bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fraktur-Terbuka/Komplikasi.html


Wednesday, June 10, 2009

Physical Fitness / Kebugaran Fisik

Physical Fitness / Kebugaran Fisik


Physical Fitness atau Kebugaran Fisik adalah segala sesuatu yang dimiliki / dicapai seseorang dalam hubungannya dengan kemampuannya untuk melakukan kegiatan fisik. Physical Fitness merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan juga beresiko rendah untuk terjangkit / menderita penyakit hipokinetik dini.

Secara ringkas, Physical Fitness memiliki definisi :
“kemampuan seseorang melakukan aktivitas keseharian secara efisien tanpa timbulnya kelelahan yang berlebihan sehinga masih dapat menikmati waktu luangnya “


Kebugaran digolongkan menjadi:




***


• Kebugaran Statis
Merupakan keadaan seseorang yang bebas dari penyakit dan cacat atau yang biasa disebut sehat.

• Kebugaran Dinamis
Kemampuan seseorang bekerja secara efisien yang tidak memerlukan ketrampilan khusus, seperti berjalan, berlari melompat, mengangkat, dsb.

• Kebugaran Motoris
Kemampuan seseorang untuk bekerja secara efisien yang menuntut ketrampilan khusus. Sebagai contoh; Pelari : memiliki teknik lari yang benar untuk dapat memenangkan perlombaan


Tips Menjaga Kebugaran:

• Pola Makan
Mengkonsumsi makanan yang cukup kualitas, cukup kuantitas.
Syarat: makanan sehat berimbang cukup energy dan nutrisi.
Mencakup : Karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air
Proporsi: Karbohidrat (60%) ; Lemak (25%) ; Protein (15%)

• Istirahat
Untuk recovery kondisi tubuh.
Lama Tidur yang ideal: Anak-anak (10 jam) ; Remaja (9-10jam) ; Muda (8-9 jam) ; Dewasa (7-8 jam )

• Latihan / Olahraga
Kebugaran non Olahraga : Massage, mandi uap, whirpool, dll
Kebugaran Olahraga : Latihan Aerobik , non aerobic.



Latihan Kebugaran

Suatu Proses Sistematis menggunakan gerakan bertujuan meningkatkan atau mempertahankan kualitas fungsi tubuh yang meliputi kualitas daya tahan paru – jantung, kekuatan dan daya tahan otot, kelentukan, komposisi tubuh.

Tahapan Latihan Kebugaran :
• Pemasansan
Dilakukan sebelum latihan.
Bertujuan untuk mempersiapkan organ tubuh.
Cukup bila : denyut jantung 60% DNM, suhu naik 1-2 derajat celcius, badan berkeringat.
Contoh gerak pemanasan : aerobic ringan, stretching, dll

• Kondisioning
Melakukan berbagai rangkaian gerakan dengan model latihan yang sesuai dengan tujuan program latihan
Contoh : intensitas latihan untuk menurunkan berat badan seseorang usia 20 tahun, pada tahap kondisioning ini, Denyut nadi: 130 – 150 x per menit selama 30 menit.
Dosis / takaran latihan ditingkatkan secara bertahap.

• Penenangan
Bertujuan untuk mengembalikan kondisi tubuh seperti sebelum berlatih dengan melakukan gerakan-gerakan berupa stretching dan aerobic ringan, misalnya jalan ditempat, jogging ringan.


Latihan Komponen – komponen Kebugaran:
• Ketahanan KardioRespiratorik
Dapat didefinisikan sebagai kemampuan jantung – paru mensuplai oksigen untuk kerja otot dalam jangka waktu lama. Kemampuan untuk melakukan latihan pada otot-otot besar, dinamik dengan intensitas sedang sampai tingi untuk waktu yang lama.

Sifat gerak : aerobic
Dosis : frekuensi: 3-5x tiap minggu; intensitas 75-85% DNM, time: 20-60 menit.
Model latihan : jogging, lari, bersepeda, berenang, senam aerobic, dayung, dsb.
Dapat juga dengan olahraga permainan, seperti tennis, bulutangkis, sepak bola, dll.

• Kekuatan dan daya tahan Otot
Kekuatan Otot : kemampuan otot melawan beban dalam satu usaha
Menggunakan beban berat, dengan pengulangan sedikit.

Daya tahan Otot : kemampuan otot melakukan serangkaian kerja dalam waktu yang lama.
Menggunakan beban ringan dengan pengulangan banyak.

Model latihan: push up, sit up, back up, dumbbell, barbell, gym machine, dll.

• Kelentukan
Kemampuan persendian bergerak secara leluasa.
Gerakan meregang persendian, mengulur otot hingga batas tertentu dalam jangka waktu tertentu.

Dosis: frekuensi: tiap hari, intensitas: batas akhir meregang, time:4-30 detik, dengan 1-3 pengulangan tiap sendi
Model latihan: stretching statis; stretching dinamis

• Komposisi Tubuh
Perbandingan berat tubuh berupa lemak dengan berat tubuh tanpa lemak yang dinyatakan dalam prosentase lemak tubuh.

Gerakan dinamis, melibatkan otot-otot besat, intensitas latihan sedang, dikerjakan kontinyu dalam waktu cukup lama.
Dosis: frekuensi: 3-5 x tiap minggu, intensitas 65-75% DNM, time 20-60 menit tiap latihan
Model latihan: jogging, bersepeda, senam aerobic, renang, dll


source: Ditulis ulang dari presentasi Physical Fitness (Bambang Trisnowiyanto) dengan berbagai modifikasi.

Tuesday, June 9, 2009

Manfaat Latihan Aerobic ( Aerobic Training )

Latihan Aerobic merupakan suatu bentuk latihan yang membutuhkan oksigen dan glukosa dalam proses metabolismenya. Latihan ini bersifat sangat comfortable dan latihan ini dapat dipertahankan dalam waktu 20 menit atau lebih. Latihan aerobic yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan VO2 max. Perubahan-perubahan yang terjadi tergantung pada:
  • tingkat kebugaran awal
  • intensitas latihan

Berikut perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh Latihan Aerobic pada Otot Skeletal :







***
  • peningkatan kapasitas untuk menghasilkan metabolisme lemak
  • peningkatan jumlah mitochondria
  • peningkatan ukuran mitochondria
  • peningkatan aktivitas fungsi enzim aerobic
  • peningkatan kadar myoglobin dalam otot skeletal sehingga terjadi peningkatan jumlah O2 yang tersedia
  • peningkatan aliran darah dalam otot
  • hypertrofi otot ( type I fiber)
  • peningkatan kapasitas otot untuk memobilisasi lemak

Berikut perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh Latihan Aerobic pada Otot Jantung :

  • penebalan dinding dan cavitas ventrikel kiri
  • peningkatan hemoglobin dan plasma
  • penurunan resting dan submax exc. Hearth rate
  • peningkatan stroke volume saat istirahat maupun latihan
  • peningkatan diastolic filling
  • peningkatan max. cardiac output
  • peningkatan kapasitas untuk mengekstrak O2
  • penurunan tekanan darah baik systole maupun diastole saat istirahat maupun saat latihan

Peningkatan kapasitas aerobic setelah latihan aerobic antara lansia dan individu muda relative sama walaupun mekanismeme terjadinya adaptasi berbeda antara lansia dan individu muda.

Pada lansia menunjukkan peningkatan kapasitas oksidative dari otot skeletal yang lebih besar dari individu muda. Mekanisme adaptasi ini mempunyai kontribusi terhadap peningkatan VO2 max pada lansia

Faktor penentu utama lain dari peningkatan VO2 max adalah cardiac output. Mekanisme adaptasi dalam peningkatan VO2 max antara laiki-laki dan wanita juga berbeda. Pada laki-laki : central adaptation. Pada wanita : peripheral adaptation

Latihan aerobic juga bermanfaat pada penderita DM ( Diabetes Militus ), yaitu dengan intensitas moderate pada 50% HRR, 55 menit per hari, 4 hari dalam seminggu selama 12 minggu. Latihan tersebut akan meningkatkan toleransi glukosa dan mengurangi penggunaan insulin.

contoh latihan aerobik antara lain :
senam, jogging, berenang, lari, bulu tangkis, tennis, bola voli, basket, dll

Tuesday, May 19, 2009

de Quervain's Tenosynovitis (thumb) / de Quervain’s Syndrome

de Quervain's Tenosynovitis (thumb) / de Quervain’s Syndrome


Apa itu de Qurvain’s Tenosynovitis?
De Quervain’s tenosynovitis terjadi pada dua tendon ibu jari yaitu abductor pollicis longus (APL) dan extensor pollicis brevis (EPB).

Di perjalanannya sampai ke ibu jari, tendon APL dan EPB terpisah melalui dua sisi dari pangkal pergelangan tangan. Kedua tendon tersebut melalui terowongan (tunnel) di dekat ujung tulang radius lengan bawah. Terowongan tersebut berfungsi menjaga kedua tendon agar tetap ditempatnya.

Terowongan ini dilapisi oleh lapisan licin yang disebut tenosynovium. Tenosynovium memungkinkan kedua tendon untuk bergerak dengan mudah saat menggerakkan ibu jari.

Peradangan tenosynovium dan tendon dinamakan tenosynovitis.

Pada de Qurvain’s Tenosynovitis, adanya peradangan membatasi gerakan tendon di dalam terowongan.


Penyebab de Qurvain’s Tenosynovitis
Gerakan tangan dan ibu jari yang berulang seperti menggenggam, menjumput, merobek, dan lainnya mungkin memacu terjadinya peradangan tenosynovium. Peradangan ini akan memacu pembengkakan yang akan membatasi gerakan-gerakan tendon dalam terowongan.

***




***
Penyakit arthritis yang meliputi seluruh tubuh, seperti rheumatoid arthritis, juga dapat menimbulkan tenosynovitis ibu jari.

Bekas luka (scar tissue) mempersulit tendon untuk bergerak dengan mudah di dalam terowongan.


Tanda dan gejala de Qurvain’s Tenosynovitis
Saat pertama kali, tanda satu-satunya adalah kelelahan pada daerah ibu jari dekat pergelangan tangan. Jika masalah ini tidak diatasi, rasa nyeri akan menyebar hingga lengan bawah atau turun hingga ke tangan dan ibu jari.

Bila gesekan meningkat, kedua tendon dapat menimbulkan suara (berderak) akibat pergerakan keduanya dalam terowongan. Suara ini disebut crepitasi. Jika kondisi ini menjadi sangat buruk, akan terjadi pembengkakan di sepanjang terowongan di dekat pangkal pergelangan tangan. Gerakan menggenggam benda dengan ibu jari dan tangan akan menimbulkan rasa nyeri


Bagaimana Fisioterapis menegakkan diagnosis?
Pendiagnosisan de Quervain’s tenosynovitis tergolong mudah. Kebanyakan tidak memerlukan tes / pemeriksaan yang rumit.

Tes Finklestein merupakan satu cara yang terbaik untuk mendiagnosis. Anda bisa melakukan tes ini sendiri. Genggam ibu jari anda dengan jari anda (di tangan yang sama). Kemudian tekuk pergelangan tangan anda dengan arah menjauh dari ibu jari ( ke arah jari kelingking). Jika anda merasa nyeri, maka anda positif terkena de Quervain’s tenosynovitis.




Terapi de Quervain’s

Istirahat dan kurangi gerakan tangan
Jika memungkinkan, anda harus merubah atau berhenti dari semua aktivitas yang menimbulkan tanda de quervain’s.
Seringlah beristirahat saat melakukan gerakan ibu jari yang berulang.
Hindari gerakan tangan yang berulang-ulang
Pastikan pergelangan tangan netral, segaris lurus dengan tangan, tanpa menekuk.

Thumb-Spica Splint
Fisioterapis anda mungkin akan menawarkan kepada anda untuk memakai thumb-spica splint. Alat ini menjaga pergelangan tangan dan sendi dibawahnya untuk tetap bergerak, sementara tendon APL dan EPB beristirahat dan memberi kesempatan untuk sembuh.


Obat Anti-inflammatory
Obat Anti-inflammatory juga dapat membantu mengontrol pembengkakan dan bebrapa tanda. Yang termasuk Obat Anti-inflammatory antara lain ibuprofen, voltaren dan aspirin.

Fisioterapi
Tujuan utama dari fisioterapi adalah untuk mengurangi atau menghilangkan penyebab iritasi tendaon ibu jari. Fisioterapis akan menganalisa bagaimana anda beraktivitas. Anda juga akan diberi saran tentang posisi tubuh / tangan yang sehat, latihan, dan tips tentang cara mencegah masalah berikutnya.
Anda akan mulai latihan gerakan tangan secara aktif sesuai batas gerakan tangan. Fisioterapis juga menggunakan ice packs, massage jaringan lunak, dan penguluran otot tangan. Anda dapat mulai latihan penguatan tangan dan ibu jari secara hati-hati dengan pembebanan dan penguluran. Fisioterapis juga menggunakan serangkaian gentle stretches mendorong tendon ibu jari meluncur dengan mudah ke dalam terowongan.
Bila ada kemajuan, anda akan diberikan latihan untuk membantu memperkuat dan menstabilkan otot dan sendi tangan dan ibu jari. Beberapa latihan yang akan Anda lakukan ini dirancang agar tangan Anda bekerja dengan cara-cara yang mirip dengan pekerjaan Anda dan kegiatan olahraga.
Anda akan dibantu menemukan cara untuk melakukan kegiatan dimana tidak memberikan banyak tekanan pada ibu jari dan pergelangan tangan. Sebelum akhir sesi terapi, akan diajarkan beberapa hal untuk menghindari masalah berikutnya.


Injeksi Corticosteroid
Jika langkah-langkah sederhana tersebut gagal untuk mengontro gejala, anda disarankan untuk melakukan Injeksi Corticosteroid ke dalam terowongan. Corticosteroid mengurangi pembengkakan pada tenosynovium dan dapat meringankan sementara gejala. Suntikan biasanya akan mengontrol peradangan pada tahap awal dari masalah ini.


Bedah / operasi
Jika semuanya gaga, Anda mungkin memerlukan operasi. Tujuan dari operasi ini adalah untuk memberikan ruang lebih untuk tendon sehingga tidak lagi bergesekan dengan bagian dalam terowongan. Untuk melakukan ini, ahli bedah yang melakukan bedah rilis dari atap terowongan.


diterjemahkan dari : http://www.physioworks.com.au/_webapp_42611/de_Quervain's_Tenosynovitis_(thumb)


Monday, May 11, 2009

Sinar Infra Merah (Infra red)

Sinar Infra Merah (Infra red)


Sinar infra merah juga dikenal dengan nama sinar infra red. Sinar infra merah ini sebenarnya merupakan suatu pancaran gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7.700 hingga 4.000.000 A.
Sinar infra merah ini secara alami dapat ditemukan atau berasal dari sinar matahari. Akan tetapi sinar ini juga dapat diperoleh / dibuat dengan berbagai cara, misalnya;

a. Bantalan listrik. Lampu non luminious infra red, lampu-lampu pijar akan mengeluarkan sinar infra merah gelombang panjang, pendek dan sinar visible
b. Carbon pendek akan mengeluarkan sinar infra merah yang disertai seinar visible dan ultra violet.
c. Air Hangat






Klasifikasi Sinar Infra merah:
• Panjang Gelombang
a. Gelombang panjang (non penetrating). Panjang gelombang di atas 12.000 A hingga 150.000 A. penetrasi hanya sampai ke lapisan superficial epidermis (sekitar 0,5 mm)
b. Gelombang pendek (penetrating). Panjang gelombang dari 7.700 A hingga 12.000 A. daya penetrasi hingga jaringan subkutan, karenanya dapat mempengaruhi pembuluh darah kapiler, pembuluh limfe, ujung-ujung saraf dan jaringan lain di bawah kulit.

• Tipe
a. tipe A : panjang gelombang 780-1500 mm, penetrasi dalam
b. tipe B : panjang gelombang 1500-3000 mm, penetrasi dangkal
c. tipe C : panjang gelombang 3000- sekitar 10.000 mm, penetrasi dangkal


Generator Sinar Infra merah:
Pada dasarnya generator infra merah dibedakan menjadi dua:
• non luminious. Generator jenis ini hanya menghasilkan / memancarkan sinar infra merah saja.

• Luminious. Generator ini tidak hanya memancarkan sinar infra merah saja tapi juga sinar visible dan ultra violet. Meskipun demikian, prosentase pancaran yang terbesar adalah sinar infra merah.


Efek fisiologis sinar infra merah
Apabila sinar infra merah diabsorbsi oleh kulit, maka akan terjadi peningkatan suhu secara local (di daerah yang mengabsorbsi sinar tersebut). Dengan peningkatan suhu / temperatur, maka akan timbul pengaruh berikutnya yaitu;
• Meningkatnya proses metabolise.
Proses metabolism yang terjadi pada lapisan superficial kulit akan meningkat sehinga suplay oksigen dan nutrisi ke jaringan akan meningkat. Demikian pula pada pengeluaran sisa-sisa metaboisme.


• Vasodilatasi pembuluh darah
Pembuluh darah kapiler akan segera melebar (dilatasi) setelah penyinaran infra merah, sehingga kulit tampak kemerahan tapi tidak merata . hal tersebut dinamakan eritema.

Eritema ini terjadi bila ada energi dengan temperatur tinggi (panas) yang diterima ujung saraf sensorik yang kemudian mempengaruhi mekanisme pengatur panas. Untuk itu, mekanisme vasomotor mengadakan reaksi pelebaran pembuluh darah sehingga panas dapat disebarkan merata ke seluruh jaringan melalui sirkulasi darah.

Dengan peningkatan sirkulasi darah maka suplay oksigen dan nutrisi ke jaringan akan meningkat, dengan demikiankadar sel darah putih dan anti body dalam jaringan akan meningkat. Hal itu menyebabkan pemeliharaan jaringan menjadi lebih baik dan perlawanan terhadap agen penyebab radang juga semakin baik.


• Pigmentasi
Penyinaran yang berulang-ulang akan menyebabkan pigmentasi pada jaringan yang bersangkutan. Pigmentasi yang terjadi biasanya mengelompok dan tidak merata karena adanya perusakan pada sebagian sel-sel darah merah ditempat tersebut.


• Pengaruh pada saraf sensorik
Pemanasan ringan berpengaruh sedative terhadap ujung saraf sensorik, sedang pemanasan berlebihan akan menimbulkan iritasi.


• Pengaruh pada jaringan otot
Selain kenaikan temperature yang akan membantu relaksasi otot juga akan meningkatkan kemampuan otot untuk berkontraksi.
Spasme menurun karena efek panasa yang meningkatkan metabolise termasuk pembuangan sisa metabolise penumpukan asam laktat yang menyebabkan terjadinya spasme)


• Destruksi jaringan
Kerusakan jaringan timbul karena penyinaran yang berlebihan dalam waktu lama sehingga menimbulkan panas yang berlebihan (tidak dapat ditoleransi tubuh).


• Peningkatan temperatur tubuh
Hal ini akan terjadi bila penyinaran dilakukan pada area tubuh secara luas dan dalam waktu yang lama. Hal tersebut akan berpengaruh juga pada penurunan tekanan darah sistemik.

• Mengaktifkan kelenjar keringat
Rangsangan panas yang dibawa ujung saraf sensorik akan mengaktifkan kerja kelenjar keringat pada daerah yang diberi penyinaran.


Efek teraputik sinar infra merah
• Mengurangi nyeri
Penyinaran infra merah merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi nyeri. Hal ini karena :
- Bila diberikan mild heating : pengurangan nyeri karena efek sedatif superfisial sensory nerve ending (ujung saraf sensorik superfisial)
- Bila diberi stronger heating : akan terjadi counter irritation yang pada akhirnya menurunkan nyeri.
- Karena nyeri timbul akibat akumulasi sisa metabolisme yang disebut substansi P maka dengan meningkatnya metabolism dan sirkulasi darah, substansi p tersebut akan dibuang.

• Relaksasi otot
Relaksasi otot akan mudah dicapai bila jaringan otot dalam keadaan hangat dan tidak merasa nyeri.

• Meningkatkan suplay darah
Peningkatan temperature akan diikuti oleh vasodilatasi yang akan menyebabkan peningkatan suplay darah ke area yang bersangkutan.

• Menghilangkan sisa-sisa metabolism
Penyinaran di daerah yang luas akan mengaktifkan glandula gudofera (kelenjar keringat) di seluruh tubuh, dengan demikian akan meningkatkan pembuangan sisa-sisa metabolism melalui keringat. Pengaruh ini sangat bermanfaat untuk kondisi arthritis.


Indikasi penyinaran Infra merah:
• kondisi peradangan setelah sub-akut : kontusio, muscle strain, muscle sprain, trauma sinovitis.
• Arthritis : rheumatoid arthritis, osteoarthritis, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis
• Gangguan sirkulasi darah : thrombo-angitis obliterans, tromboplebitis, reynold’s desease
• Penyakit kulit : folliculitis, furuncolosi, wound
• Persiapan exercise dan massage


Kontra Indikasi penyinaran Infra merah:
• Daerah dengan insufisiensi darah
• Gangguan sensibilitas kulit
• Ada kecenderungan terjadi perdarahan
• Luka bakar
• Electric shock
• Headache / pusing
• Pingsan tiba-tiba sewaktu penyinaran
• Menggigil
• Mata



Sumber : Hand Book Sumber Fisis Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi dengan berbagai perubahan

Friday, April 3, 2009

Anatomy of HUMERUS

Anatomy of HUMERUS




A. Ventral view (left)
B. Dorsal view (left)

1. Caput humeri
2. Collum anatomicum
3. Tuberculum majus
4. Tuberculum minus
5. Collum chirurgicum
6. Crista tuberculi majoris
7. Crista tuberculi minoris
8. Tuberositas deltoidea
9. Corpus humeri
10. Sulcus nervi radialis

***






11. Facies posterior
12. Margo lateralis
13. Margo medialis
14. Facies anterior lateralis
15. Facies anterior medialis
16. Crista supracondylaris medialis
17. Crista supracondylaris lateralis
18. Epicondylus lateralis
19. Fossa radialis
20. Fossa coronoidea
21. Epicondylus medialis
22. Sulcus nervi ulnaris
23. Trochlea humeri
24. Condylus humeri
25. Capitulum humeri
26. Fossa olecrani



Proximal view (left)

1. Sulcus intertubercularis
2. Tuberculum minus
3. Caput humeri
4. Collum anatomicum
5. Tuberculum majus
6. M. supraspinatus (tendon insertion)
7. M. infraspinatus (tendon insertion)
8. M. teres minor (tendon insertion)
9. Tuberculum majus



Tuesday, March 17, 2009

SCAPULA

ANATOMY OF SCAPULA



Scapula dorsal view (left):

1. Angulus superior
2. Angulus inferior
3. Angulus lateralis
4. Margo superior
5. Margo medialis



***



***



Scapula dorsal view (left).


6. Margo lateralis
7. Spina scapulae
8. Fossa supraspinata
9. Incisura scapulae
10. Proc. Coracoideus
11. Acromion
12. Angulus acromialis
13. Cavitas glenoidalis
14. Colum scapulae
15. Tuberculum infraglenoidale
16. Fossa infraspinata





scapula lateral view (left):

scapula lateral view (left).


1. Facies posterior
2. Facies costalis
3. Acromion
4. Tuberculum supraglenoidale
5. Proc. Coracoideus
6. Cavitas glenoidalis
7. Tuberculum infraglenoidale
8. Margo lateralis






Scapula ventral view (left):

Scapula ventral view (left).


1. Angulus lateralis
2. Angulus inferior
3. Angulus superior
4. Cavitas glenoidalis
5. Facies articularis acromii
6. Acromion
7. Proc. Coracoideus
8. Incisura scapulae
9. Fossa subscapularis
10. Facies costais
11. Collum scapulae
12. Margo superior
13. Margo medialis
14. Margo lateralis

Thursday, March 12, 2009

STERNOCLAVICULAR JOINT


STERNOCLAVICULAR JOINT
( Articulatio sternoclavicularis )



1. Lig. Costoclaviculare
2. Lig. Sternoclaviculare anterius
3. Lig. Interclaviculare
4. Discus articularis

***




***

Sternoclavicular joint Articulatio sternoclavicularis; the right joint has been exposed by a frontal sectionventral view.


5. Manubrium sterni
6. Clavicula
7. Capsula articularis
8. Lig. Costoclaviculare
9. Cartilago costalis I
10. Cartilago costalis II
11. Lig. Sternocostale radiatum
12. Symphysis manubriosternalis


..::klik untuk One 4 Share versi mobile ::.. _ __