Chitrangada, putra Setyawati, tewas dalam perang melawan para gandarwa. Karena ia tidak punya anak, adiknya, Wicitrawirya, dinobatkan menjadi penggantinya. Tetapi, ketika naik tahta ia belum cukup dewasa, tampuk pemerintahan dijalankan Bhisma sampai ia cukup umur.
Ketika Wicitrawirya telah cukup dewasa, Bhisma mencarikan calon istri untuknya. Ia mendengar bahwa putri-putri raja Kasi akan memilih calon suami menurut adat istiadat kaum ksatria. Bhisma memutuskan untuk ikut atas nama adiknya. Para penguasa Kosala, Wangsa, Pundra, Kalingga, dan para pangeran lain juga mengikuti sayembara itu. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka. Putri-putri raja Kasi sangat terkenal kecantikan dan keanggunannya sehingga banyak yang ingin memenangkan sayembara itu.
Di kalangan ksatria, Bhisma terkenal sakti dan mahir menggunakan segala macam senjata. Semula orang-orang menyangka pahlawan yang sangat dihormati itu dating hanya untuk menyaksikan jalannya sayembara. Tetapi, ketika mengetahui bahwa Bhisma mengikuti sayembara, para pangeran muda itu kecut hatinya. Tidak ada yang tahu bahwa ia datang demi adiknya, Wicitrawirya.
Para pangeran berbisik-bisik, membicarakan Bhisma. Seorang berkata kepada yang lain: “keturunan keluarga Bharata terbaik dan bijaksana ini lupa diri. Ia sudah tua dan lupa pada janjinya untuk hidup sebagai brahmacarin yang seumur hidup tidak akan kawin. Untuk apa ia ikut sayembara ini? Dasar tidak tahu diri!”
Bhisma marah besar. Ia menantang semua putra mahkota untuk perang tanding dengannya. Mereka semua dikalahkan. Setelah itu, ia membawa ketiga putrid itu ke dalam kereta yang telah ia persiapkan untuk kembali ke Hastinapura. Belum jauh dari arena sayembara itu, mereka dihadang raja Salwa dari kerajaan Saubala. Raja Salwa menantang Bhisma untuk bertarung. Sebenarnya raja itu sudah menjalin kasih dengan Amba dan Amba pun secara pribadi telah memilih Salwa sebagai suami. Setelah pertarungan yang sengit, Salwa takluk. Kekalahan ini tidak mengejutkan karena Bhisma adalah pemanah yang sulit dicari tandingannya. Disebabkan permintaan para putrid, Bhisma urung membunuh Salwa.
berlanjut ke Amba dan Bisma (Bag. 2)
dari:C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Showing posts with label mahabharata. Show all posts
Showing posts with label mahabharata. Show all posts
Tuesday, June 1, 2010
Amba dan Bisma (Bag. 1)
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
Wednesday, May 12, 2010
SUMPAH BHISMA (bag.2 )
Suatu hari Dewabrata bertanya kepada ayahnya: “yahanda memiliki semua yang mungkin diinginkan orang. Tetapi, mengapa ayahanda tampak sedemikian murung? Sepertinya, ayahanda menyimpan rahasia yang menyesakkan hati.”
Prabu Sentanu menjawab: “Anakku, apa yang kau katakan benar. Ayahanda memang tersiksa perasan gundah-gulana. Engkau adalah anakku satu-satunya dan kau selalu sibuk dengan urusan keprajuritan. Hidup di dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan selalu saja ada perang. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padamu, garis keturunan keluarga kita akan putus, punah. Tentu saja, engkau sebanding dengan seratus anak. Namun demikian, para tetua cendekiawan mengatakan bahwa hidup di mayapada, dunia ini, punya satu anak sama artinya tidak punya anak sama sekali. Sungguh sayang, kelangsungan keluarga kita tergantung pada seorang anak saja. Sebenarnya, ayahanda memikirkan kelangsungan garis keturunan keluarga kita. Inilah yang menyebabkan ayah berduka.” Sang ayah berusaha menututp-nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa malu pada anaknya.
Dewabrata yakin pasti ada alasan rahasia yang mengganggu ketenangan hati ayahnya. Kemudian, ia bertanya keapada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis penangkap ikan di pinggiran sungai Yamuna. Kemusian, ia pergi kepada kepala nelayan itu dan meminang anak gadisnya demi sang ayah.
Kepala nelayan itu menerimanya dengan hormat, tapi tetap bersikukuh dengan syaratnya: “sebenarnya anak gadis hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda paduka. Oleh karena itu, bukankah wajar jika anak lelakinya kelak akan menggantikannya menjadi raja? Tapi paduka telah dinobatkan sebagai putr mahkota dan dengan demikian akan menggantikannya. Inilah masalahnya.”
Jawab Dewabrata: “Baiklah, tolong ingat baik-baik kata-kataku, anak lelaki yang dilahirkan anak gadismu akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela tidak naik tahta demi keinginan ayahanda untuk melanjutkan garis keturunan keluarga.” Kemudian, Dewabrata mulai mengucapkan sumpahnya.
Setelah itu, kepala nelayan tersebut berucap, “Wahai , putra mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, tuan telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh para pewaris tahta sampai saat ini. Tuan memang seorang pahlawan. Silakan tuan membawa anak gadis hamba untuk diperistri ayahanda tuanku. Namun demiian, mohon tuanku terus mendengarkan dengan sabar kata-kata hamba ini sebagai ayah anak gadisku. Hamba yakin tuanku akan menepati janji. Tapi, apa yang dapat hamba gunakan untuk menguatkan harapan bahwa anak keturunan tuanku tidak akan menuntut hak mereaka? Keturunan tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar, seperti tuanku. Pasti akan sulit untuk menolak jika mereka berusaha merebut kerajaan dengan paksa. Inilah permasalahan yang mengganggu pikiran hamba.”
Mendengar pertanyaan sangat sulit yang diajukan ayah gadis pujaan ayahandanya, Dewabrata, yang memutuskan untuk meninggalkan keinginan duniawi demi keinginan ayahandanya, mengucapkan sumpah pamungkas. Ia bersumpah di hadapan ayah anak gadis itu: “Aku berjanji tidak akan kawin dan akan menjalani kesucian sepanjang hidupku.” Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, para dewa menaburkan bunga-bunga semerbak di atas kepalanya dan terdengar suara-suara yang mengelu-elukan, “Bhisma…. Bhisma… Bhisma… “ Sejak saat itu, Dewabrata dikenal sebagai Bhisma. Demikianlah, putra Batari Gangga memboyong Setyawati ke Hastinapura untuk ayahandanya.
Dari perkawinan dengan Setyawati, raja Sentanu mendapatkan dua putra, Chitrangada dan Wicitrawirya. Wicitrawirya menjadi raja menggantikan saudaranya. Wicitrawirya mempunyai dua anak, Destarata dan Pandu, dari kedua permaisuri, Ambika dan Ambalika. Anak Destarata yang berjumlah seratus dikenal sebagai Kurawa. Pandu mempunyai lima anak yang dikenal sebagai pandawa.
Bhisma menjalani kehidupan yang p-anjang. Ia dihormati sebagai sesepuh keluarga sampai perang besar di medan Kurusetra.
Bersambung ke AMBA DAN BHISMA (bag. 1 )
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Prabu Sentanu menjawab: “Anakku, apa yang kau katakan benar. Ayahanda memang tersiksa perasan gundah-gulana. Engkau adalah anakku satu-satunya dan kau selalu sibuk dengan urusan keprajuritan. Hidup di dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan selalu saja ada perang. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padamu, garis keturunan keluarga kita akan putus, punah. Tentu saja, engkau sebanding dengan seratus anak. Namun demikian, para tetua cendekiawan mengatakan bahwa hidup di mayapada, dunia ini, punya satu anak sama artinya tidak punya anak sama sekali. Sungguh sayang, kelangsungan keluarga kita tergantung pada seorang anak saja. Sebenarnya, ayahanda memikirkan kelangsungan garis keturunan keluarga kita. Inilah yang menyebabkan ayah berduka.” Sang ayah berusaha menututp-nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa malu pada anaknya.
Dewabrata yakin pasti ada alasan rahasia yang mengganggu ketenangan hati ayahnya. Kemudian, ia bertanya keapada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis penangkap ikan di pinggiran sungai Yamuna. Kemusian, ia pergi kepada kepala nelayan itu dan meminang anak gadisnya demi sang ayah.
Kepala nelayan itu menerimanya dengan hormat, tapi tetap bersikukuh dengan syaratnya: “sebenarnya anak gadis hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda paduka. Oleh karena itu, bukankah wajar jika anak lelakinya kelak akan menggantikannya menjadi raja? Tapi paduka telah dinobatkan sebagai putr mahkota dan dengan demikian akan menggantikannya. Inilah masalahnya.”
Jawab Dewabrata: “Baiklah, tolong ingat baik-baik kata-kataku, anak lelaki yang dilahirkan anak gadismu akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela tidak naik tahta demi keinginan ayahanda untuk melanjutkan garis keturunan keluarga.” Kemudian, Dewabrata mulai mengucapkan sumpahnya.
Setelah itu, kepala nelayan tersebut berucap, “Wahai , putra mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, tuan telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh para pewaris tahta sampai saat ini. Tuan memang seorang pahlawan. Silakan tuan membawa anak gadis hamba untuk diperistri ayahanda tuanku. Namun demiian, mohon tuanku terus mendengarkan dengan sabar kata-kata hamba ini sebagai ayah anak gadisku. Hamba yakin tuanku akan menepati janji. Tapi, apa yang dapat hamba gunakan untuk menguatkan harapan bahwa anak keturunan tuanku tidak akan menuntut hak mereaka? Keturunan tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar, seperti tuanku. Pasti akan sulit untuk menolak jika mereka berusaha merebut kerajaan dengan paksa. Inilah permasalahan yang mengganggu pikiran hamba.”
Mendengar pertanyaan sangat sulit yang diajukan ayah gadis pujaan ayahandanya, Dewabrata, yang memutuskan untuk meninggalkan keinginan duniawi demi keinginan ayahandanya, mengucapkan sumpah pamungkas. Ia bersumpah di hadapan ayah anak gadis itu: “Aku berjanji tidak akan kawin dan akan menjalani kesucian sepanjang hidupku.” Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, para dewa menaburkan bunga-bunga semerbak di atas kepalanya dan terdengar suara-suara yang mengelu-elukan, “Bhisma…. Bhisma… Bhisma… “ Sejak saat itu, Dewabrata dikenal sebagai Bhisma. Demikianlah, putra Batari Gangga memboyong Setyawati ke Hastinapura untuk ayahandanya.
Dari perkawinan dengan Setyawati, raja Sentanu mendapatkan dua putra, Chitrangada dan Wicitrawirya. Wicitrawirya menjadi raja menggantikan saudaranya. Wicitrawirya mempunyai dua anak, Destarata dan Pandu, dari kedua permaisuri, Ambika dan Ambalika. Anak Destarata yang berjumlah seratus dikenal sebagai Kurawa. Pandu mempunyai lima anak yang dikenal sebagai pandawa.
Bhisma menjalani kehidupan yang p-anjang. Ia dihormati sebagai sesepuh keluarga sampai perang besar di medan Kurusetra.
Bersambung ke AMBA DAN BHISMA (bag. 1 )
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
Tuesday, May 11, 2010
SUMPAH BHISMA (bag. 1)
Dengan riang hati, raja menyambut dan membawa sang putra ke istana. Anak yang dikelilingi aura keagungan dan kemudaan ini dinobatkan menjadi putra mahkota.
Empat tahun berlalu. Suatu hari, raja berjalan-jalan di pinggiran sungai Yamuna. Tiba-tiba udara menyebarkan keharuman yang luar biasa. Raja mencari sumber keharuman. Ternyata sumbernya berasal dari seorang gadis jelita, secantik bidadari kahyangan. Berkat kebaikan hati seorang resi, keharuman yang sedemikian luar biasa akan selalu menguar dari tubuh gadis itu dan sekarang seluruh hutan menjadi harum karena kehadiran gadis tersebut.
Sepeninggal dewi Gangga, raja Sentanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsu. Tetapi, kecantikan gadis itu membuatnya hilang kendali dan terbawa gairah asmara yang meluap-luap. Raja Sentanu meminang gadis itu untuk menjadi permaisurinya.
Berkatalah gadis jelita itu: “Paduka raja, namaku Setyawati. Aku seorang penangkap ikan. Ayahku kepala nelayan di daerah ini. Silakan Paduka membicarakan permintaanmu dengan ayah. Semoga dia menerima pinanganmu.” Suaranya seelok tubuhnya.
Ayah gadis itu memang cerdik.
Katanya: “Daulat tuanku, memang sudah saatnya putri hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka boleh meminangnya. Namun demikian, sebelumnya hamba mohon Paduka mau berjanji di hadapan hamba.”
Kata raja Sentanu: “Apa pun syarat yang anda ajukan akan aku penuhi”
Kepala nelayan itu memohon: “Jika anak hamba melahirkan anak laki-laki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota.”
Meskipun sedang dimabuk asmara pada Setyawati, raja Sentanu tidak dapat menyanggupi persyaratan ayah Setyawati. Ia sadar syarat itu akan berarti menyingkirkan Dewabrata, putra dewi Gangga yang seelok dew, dari posisi putr mahkota. Harga yangterlalu memalukan untuk ditanggung. Oleh karena itu, ia kembali ke istana Hastinapura. Perasaannya campur aduk tidak karuan.Raja menyimpan rapat rahasianya. Ia simpan rapat kegelisahan hatinya. Ia banyak mengurung diri dan melamun.
Bersambung ke SUMPAH BHISMA (bag. 2 )
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Empat tahun berlalu. Suatu hari, raja berjalan-jalan di pinggiran sungai Yamuna. Tiba-tiba udara menyebarkan keharuman yang luar biasa. Raja mencari sumber keharuman. Ternyata sumbernya berasal dari seorang gadis jelita, secantik bidadari kahyangan. Berkat kebaikan hati seorang resi, keharuman yang sedemikian luar biasa akan selalu menguar dari tubuh gadis itu dan sekarang seluruh hutan menjadi harum karena kehadiran gadis tersebut.
Sepeninggal dewi Gangga, raja Sentanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsu. Tetapi, kecantikan gadis itu membuatnya hilang kendali dan terbawa gairah asmara yang meluap-luap. Raja Sentanu meminang gadis itu untuk menjadi permaisurinya.
Berkatalah gadis jelita itu: “Paduka raja, namaku Setyawati. Aku seorang penangkap ikan. Ayahku kepala nelayan di daerah ini. Silakan Paduka membicarakan permintaanmu dengan ayah. Semoga dia menerima pinanganmu.” Suaranya seelok tubuhnya.
Ayah gadis itu memang cerdik.
Katanya: “Daulat tuanku, memang sudah saatnya putri hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka boleh meminangnya. Namun demikian, sebelumnya hamba mohon Paduka mau berjanji di hadapan hamba.”
Kata raja Sentanu: “Apa pun syarat yang anda ajukan akan aku penuhi”
Kepala nelayan itu memohon: “Jika anak hamba melahirkan anak laki-laki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota.”
Meskipun sedang dimabuk asmara pada Setyawati, raja Sentanu tidak dapat menyanggupi persyaratan ayah Setyawati. Ia sadar syarat itu akan berarti menyingkirkan Dewabrata, putra dewi Gangga yang seelok dew, dari posisi putr mahkota. Harga yangterlalu memalukan untuk ditanggung. Oleh karena itu, ia kembali ke istana Hastinapura. Perasaannya campur aduk tidak karuan.Raja menyimpan rapat rahasianya. Ia simpan rapat kegelisahan hatinya. Ia banyak mengurung diri dan melamun.
Bersambung ke SUMPAH BHISMA (bag. 2 )
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
DEWABRATA ( bag. 3 )
Resi Wasistha berkata: “Kutuk telah terucap dan akan berlaku pada waktunya nanti. Prabhasa, wasu yang melarikan sapiku akan menjalani kehidupan yang panjang dalam kemuliaan. Para wasu lain yang segera setelah terlahir di dunia akan lepas dari kutuk. Aku tidak dapat membatalkan, tapi dapat melunakkan kutukanku.” Kemudian resi Wasistha kembali memusatkan konsentrasi pada keheningan, yang semula bergolak karena amarah. Seorang resi yang sedang bertapa brata memang mendapatkan kekuatan untuk mengutuk, tapi setiap kali ia menggunakan kekuatannya untuk mengucapkan kutukan, tingkat kesucian yang telah dicapai akan berkurang.
Mendengar itu, para wasu merasa lega. Kemudian mereka menghadap Batari Ganga dan memohon: “Sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Sudilah kiranya Batari turun ke bumi dan menikahi pria yang bermartabat. Buanglah kami ke sungai Ganggasegera setelah kami lahir. Lepaskan kami dari kutukan.” Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi dan menjadi permaisuri raja Sentanu.
Ketika dewi Gangga menhilang dan membawa bayinya yang kedelapan, raja meninggalkan semua kesenangan duniawi dan memerintah kerajaan dengan semangat asketisme. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di tepi sungai Gangga, dia melihat seorang anak laki-laki yang dilingkupi aura keagungan dan keelokan Dewandra, raja para dewa-dewi. Anak itu sedang bermain panah. Ia berulang kali melepas anak panah ke seberang sungai Gangga. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Tiba-tiba, di hadapan raja yang sedang takjub pada keelokan dan ketangkasan anak itu, Dewi Gangga menampakkan diri. Sang Dewi mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.
Katanya: “ Wahai, Paduka raja, inilah anak kita yang kedelapan. Ia sudah besar. Dia kunamai Dewabrata. Aku mengajarinya menguasai seni perang. Keaktiannya setara dengan kesaktian Parasutama. Ia telah mempelajari weda dan wedanta dari resi Wasistha. Ia juga menguasai kesenian dan ilmu yang dikuasai Sukra. Terimalah anak ini. Kelak ia akan menjadi pemanah, pahlawan, dan negarawan besar. Kemudian Batari Durga memberkahi anak itu; menyerahkan kepada ayahnya, raja Sentanu; dan menghilang.
Berlanjut ke Sumpah Bhisma (bag.1)
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Mendengar itu, para wasu merasa lega. Kemudian mereka menghadap Batari Ganga dan memohon: “Sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Sudilah kiranya Batari turun ke bumi dan menikahi pria yang bermartabat. Buanglah kami ke sungai Ganggasegera setelah kami lahir. Lepaskan kami dari kutukan.” Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi dan menjadi permaisuri raja Sentanu.
Ketika dewi Gangga menhilang dan membawa bayinya yang kedelapan, raja meninggalkan semua kesenangan duniawi dan memerintah kerajaan dengan semangat asketisme. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di tepi sungai Gangga, dia melihat seorang anak laki-laki yang dilingkupi aura keagungan dan keelokan Dewandra, raja para dewa-dewi. Anak itu sedang bermain panah. Ia berulang kali melepas anak panah ke seberang sungai Gangga. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Tiba-tiba, di hadapan raja yang sedang takjub pada keelokan dan ketangkasan anak itu, Dewi Gangga menampakkan diri. Sang Dewi mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.
Katanya: “ Wahai, Paduka raja, inilah anak kita yang kedelapan. Ia sudah besar. Dia kunamai Dewabrata. Aku mengajarinya menguasai seni perang. Keaktiannya setara dengan kesaktian Parasutama. Ia telah mempelajari weda dan wedanta dari resi Wasistha. Ia juga menguasai kesenian dan ilmu yang dikuasai Sukra. Terimalah anak ini. Kelak ia akan menjadi pemanah, pahlawan, dan negarawan besar. Kemudian Batari Durga memberkahi anak itu; menyerahkan kepada ayahnya, raja Sentanu; dan menghilang.
Berlanjut ke Sumpah Bhisma (bag.1)
sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
Sunday, May 9, 2010
DEWABRATA ( bag. 2 )
“Wahai Raja yang Agung, “ jawab Dewi Gangga, “Engkau telah melanggar janjimu padaku. Hatimu telah tertambat pada anak ini. Berarti engkau tidak membutuhkanku lagi, aku akan pergi. Baiklah aku tidak akan membunuh anak ini. Sebelum menghakimiku, dengarkan penjelasanku dulu. Sebenarnya aku adalah Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia. Aku terpaksa memainkan lakon yang kejam ini karena kutuk resi Wasistha. Resi Wasistha mengutuk delapan wasu sehingga terlahir di dunia manusia. Mereka kemudian memohon kesediaanku untuk menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, aku melahirkan mereka ke dunia. Sebagai balas budi telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang lebih tingi di alam baka. Aku akan membawa anak bungsumu dan membesarkannya. Kelak, aku akan menyerahkan kembali anak ini sebagai pemberianku kepadamu.” Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayi itu. Kelak bayi ini akan dikenal sebagai Bhisma.
Beginilah, kisah mengapa kedelapan wasu terkena kutuk resi Eawistha: sutau hari mereka pergi berjalan-jalan di pegunungan bersama dengan istri-istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat sapi resi Wasistha, Nandini, sedang merumput. Keelokan Nandini sunggauh memukau dan iapun berseru kepada para istri. Mereka semua terpesona pada binatang yang mengagumkan itu. Lalu, salah satu istri meminta kepada suaminya untuk menangkap sapi tersebut.
Si suami yang diminta, menjawab: “Apa gunanya sapi itu bagi kita, para dewa? Sapi tiu kepunyaan resi Wasistha, penguasa wilayah ini. Manusia akan manusia akan menjadi abadi jika minum susu sapi itu, tapi apa gunanya bagi kita, yang telah ditakdirkan hidup abadi. Lagi pula, kita akan celaka jika resi Wasistha murka hanya karena memperturutkan hasrat dan kesenangan?”
Tapi sang istri tidak peduli. Katanya, “ Aku punya teman terkasih. Ia manusia biasa. Demi dialah, aku memintamu mengambil sapi itu. Sebelum resi Wasistha kembali, kita telah pergi jauh membawa sapi itu. Demi aku, penuhilah keinginanku ini. Ini sangat berarti bagiku.” Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan atau wasu itu bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu mereka melarikan jauh-jauh.
Ketika kembali ke pertapaan, resi wasistha tidak menemukan Nandini dan anaknya. Sapi tiu sangat dibutuhkan untuk upacara persembahan hariannya. Berkat kekuatan yoga, resi Wasistha segera tahu apa yang telah terjadi. Ia amat murka dan mengucapkan kutuk atas para wasu. Resi, yang telah meninggalkan keduniawian dan hanyamemikirkan masalah ruhani, mengutuk para wasu akan terlahir ke dunia manusia. Ketika menyadari bahwa mereka terkena kutuk –penyesalan selalu datang terlambat—para wasu segera bersimpuh di hadapan resi Wasistha untuk mohon belas kasih dan ampunan atas kesalahan mereka.
Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 3 )
dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Beginilah, kisah mengapa kedelapan wasu terkena kutuk resi Eawistha: sutau hari mereka pergi berjalan-jalan di pegunungan bersama dengan istri-istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat sapi resi Wasistha, Nandini, sedang merumput. Keelokan Nandini sunggauh memukau dan iapun berseru kepada para istri. Mereka semua terpesona pada binatang yang mengagumkan itu. Lalu, salah satu istri meminta kepada suaminya untuk menangkap sapi tersebut.
Si suami yang diminta, menjawab: “Apa gunanya sapi itu bagi kita, para dewa? Sapi tiu kepunyaan resi Wasistha, penguasa wilayah ini. Manusia akan manusia akan menjadi abadi jika minum susu sapi itu, tapi apa gunanya bagi kita, yang telah ditakdirkan hidup abadi. Lagi pula, kita akan celaka jika resi Wasistha murka hanya karena memperturutkan hasrat dan kesenangan?”
Tapi sang istri tidak peduli. Katanya, “ Aku punya teman terkasih. Ia manusia biasa. Demi dialah, aku memintamu mengambil sapi itu. Sebelum resi Wasistha kembali, kita telah pergi jauh membawa sapi itu. Demi aku, penuhilah keinginanku ini. Ini sangat berarti bagiku.” Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan atau wasu itu bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu mereka melarikan jauh-jauh.
Ketika kembali ke pertapaan, resi wasistha tidak menemukan Nandini dan anaknya. Sapi tiu sangat dibutuhkan untuk upacara persembahan hariannya. Berkat kekuatan yoga, resi Wasistha segera tahu apa yang telah terjadi. Ia amat murka dan mengucapkan kutuk atas para wasu. Resi, yang telah meninggalkan keduniawian dan hanyamemikirkan masalah ruhani, mengutuk para wasu akan terlahir ke dunia manusia. Ketika menyadari bahwa mereka terkena kutuk –penyesalan selalu datang terlambat—para wasu segera bersimpuh di hadapan resi Wasistha untuk mohon belas kasih dan ampunan atas kesalahan mereka.
Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 3 )
dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
DEWABRATA ( bag. 1 )
“Siapakah dirimu, wahai sang dewi, jadilah istriku.” Demikian kata Maharaja Sentanu kepada dewi Gangga yang berdiri di hadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona pada kecantikan sang dewi yang jauh melampaui kecantikan manusia biasa.
Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi. Raja berjanji akan memberikan kerajaan, kekayaan bahkan nyawanya.
Dewi Gangga menjawab: “Paduka Raja, aku bersedia menjadi istrimu. Asalkan engkau atau siapapun tidak boleh menanyakan dari mana dan siapakah aku sebenarnya. Engkau juga tidak boleh menghalangi apa pun yang aku lakukan, baik atau buruk. Engkau tidak boleh marah kepadaku apa pun alasannya. Engkau tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuatku sedih. Jika engkau melanggar syarat-syarat itu, aku akan pergi meninggalkanmu. Apakah engkau setuju dan bersedia berjanji tidak akan melanggarnya?”
Raja yang mabuk kepayang bersumpah akan mematuhi semua persyaratan itu. Akhirnya dewi Ganga diperistri dan tingal bersama raja Sentanu.
Hati sang Raja terpikat oleh kesederhanaan, keanggunan, dan cinta dewi Gangga yang tidak pernah surut. Mereka menjalani kehidupan yang amat membahagiakan. Tidak terasa waktu berlalul sangat cepat.
Dewi Gangga melahirkan banyak anak. Setiap anak yang baru saja ia lahirkan ia bawa dan benamkan di Sungai Gangga. Kemudian ia kembali pada Raja dengan wajah berseri-seri.
Melihat tindakan istrinya yang demikian kejam, raja sentanu merasa cemas dan sangat sedih. Tapi, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati. Ia ingat pada janjinya dulu. Sering kali raja bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya permaisurinya, dari mana ia berasal, dan mengapaia bertindak seperti layaknya tukang sihir yang kejam. Karena takut melanggar sumpah dan cinta yangsedemikian besar, raja sama sekali tidak menyalahkan atau mencela perbuatan permaisuri.
Demikianlah dewi Gangga membunuh ketjuh anaknya. Ketika anak ke delapan lahir dan akan dibuang ke sungai Gangga, raja Sentanu tidak dapat menahan diri lagi.
Ia berteriak lantang: “Hentikan! Mengapa kau begitu tega melakukan tindakan kejam dan membunuh darah daging sendiri yang tidak berdosa?” Dengan kemarahan yang tertahan raja Sentanu menahan permaisuri untuk melakukan tindakan kejam itu.
Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 2 )
dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi. Raja berjanji akan memberikan kerajaan, kekayaan bahkan nyawanya.
Dewi Gangga menjawab: “Paduka Raja, aku bersedia menjadi istrimu. Asalkan engkau atau siapapun tidak boleh menanyakan dari mana dan siapakah aku sebenarnya. Engkau juga tidak boleh menghalangi apa pun yang aku lakukan, baik atau buruk. Engkau tidak boleh marah kepadaku apa pun alasannya. Engkau tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuatku sedih. Jika engkau melanggar syarat-syarat itu, aku akan pergi meninggalkanmu. Apakah engkau setuju dan bersedia berjanji tidak akan melanggarnya?”
Raja yang mabuk kepayang bersumpah akan mematuhi semua persyaratan itu. Akhirnya dewi Ganga diperistri dan tingal bersama raja Sentanu.
Hati sang Raja terpikat oleh kesederhanaan, keanggunan, dan cinta dewi Gangga yang tidak pernah surut. Mereka menjalani kehidupan yang amat membahagiakan. Tidak terasa waktu berlalul sangat cepat.
Dewi Gangga melahirkan banyak anak. Setiap anak yang baru saja ia lahirkan ia bawa dan benamkan di Sungai Gangga. Kemudian ia kembali pada Raja dengan wajah berseri-seri.
Melihat tindakan istrinya yang demikian kejam, raja sentanu merasa cemas dan sangat sedih. Tapi, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati. Ia ingat pada janjinya dulu. Sering kali raja bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya permaisurinya, dari mana ia berasal, dan mengapaia bertindak seperti layaknya tukang sihir yang kejam. Karena takut melanggar sumpah dan cinta yangsedemikian besar, raja sama sekali tidak menyalahkan atau mencela perbuatan permaisuri.
Demikianlah dewi Gangga membunuh ketjuh anaknya. Ketika anak ke delapan lahir dan akan dibuang ke sungai Gangga, raja Sentanu tidak dapat menahan diri lagi.
Ia berteriak lantang: “Hentikan! Mengapa kau begitu tega melakukan tindakan kejam dan membunuh darah daging sendiri yang tidak berdosa?” Dengan kemarahan yang tertahan raja Sentanu menahan permaisuri untuk melakukan tindakan kejam itu.
Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 2 )
dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
Labels:
cerita,
mahabharata,
wayang
Subscribe to:
Posts (Atom)