..:: klik untuk One 4 Share versi mobile ::.. ..:: Di sini, Rp 10.000,- bekerja untuk Anda ::..
Showing posts with label wayang. Show all posts
Showing posts with label wayang. Show all posts

Thursday, March 31, 2011

Makna dibalik Pertemuan Bima dan Dewa Ruci [2]


lanjutan [ Makna dibalik Pertemuan Bima dan Dewa Ruci [1] } Setiap manusia, tanpa mengenal ras, bangsa, suku, dan agama; selalu mempunyai Dewa Ruci-nya sendiri-sendiri. Ia adalah hati kecil kita, yang selalu mengingatkan kita. Ia merupakan mata hati kita, yang selalu melihat secara jernih, segala hal di sekeliling kita, tanpa terpengaruh apapun. Karenanya, Dewa Ruci, selalu ‘manjing’ di dalam diri kita, yang diibaratkan sebagai Bima.

Dewa Ruci mewakili hati kecil kita, yang tidak bisa dibohongi, tidak bisa dibeli, tidak bisa diubah pendiriannya, jujur, dan selalu mengingatkan diri kita tentang berbagai hal yang kita akan, sedang, dan sudah lakukan.



Bima yang ‘orang biasa’, sebenarnya mewakili bagian dari diri ‘wadhag’ kita yang bersikap lugu, jujur, dan apa adanya. Setiap manusia, pasti mempunyai sifat ini, meskipun seringkali tertutup dengan sifat dan peri-laku lainnya yang mendominasi kehidupan kita.

Sebagai manusia biasa, seringkali kita berhadapan dengan berbagai hal dan peristiwa, yang bisa membuat kita kehilangan keteguhan hati, kesetiaan, semangat hidup, dan semangat juang. Sesekali, kita pasti merasakan juga seakan-akan dunia sudah melupakan kita, atau seakan menghilangkan peran kita. Karenanya, kita seringkali menjadi jengkel, marah, atau mungkin saja timbul dendam kesumat, terhadap sesuatu hal yang kita hadapi. Akibatnya, bisa saja kita lalu bersikap masa bodoh. Jika kesedihan kita sedemikian memuncaknya, maka mungkin saja kita membuat keputusan yang jauh lebih drastis dari pada yang kita bayangkan, yaitu mengakhiri hidup kita. Mungkin, maksud kita mau melupakan semua hal yang merumitkan dan menyulitkan kehidupan kita. Tetapi, apakah benar seperti itu, jalan yang hendak kita jalani?

Sebagai manusia biasa, kita bisa saja membuat keputusan dan tindakan yang bagi orang lain merupakan suatu tindakan konyol. Tetapi, jika kita mulai memahami segala hal secara jernih, sangat mungkin hal itu tidak akan terjadi. Tetapi, siapakah yang mengingatkan kita pertama kali tentang apa yang kita pikirkan dan hendak kita lakukan. Apakah kita selalu merenungkan hal ini? Kita seringkali merasa sendirian, tak mempunyai teman, tak mempunyai sahabat, merasakan kesepian yang luar biasa. Bahkan perasaan ini juga bisa timbul saat kita berada di tempat yang sangat ramai.

Intinya, kita sebagai pengejawantahan Bima, bisa saja mencapai suatu tahap ‘suci’ (seperti diceritakan dalam pewayangan, pada lakon ‘Bima Suci’), jika kita mau mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa Ruci, hati kecil kita. Dengan demikian, jika kita mau berlaku seperti itu, maka akan mengalami kehidupan yang jauh lebih baik, lebih damai, serta bisa mengerti dan menerima, mengapa orang memperlakukan kita dengan suatu perlakuan tertentu (kadang-kadang kita diperlakukan secara baik, kadang-kadang kita diperlakukan secara buruk).

Jika mengerti berbagai hal itu, maka sama dengan kita mulai mengerti siapa diri kita, siapa jati diri kita, mengerti untuk apa kita ada, dan akhirnya juga kepada siapa kita akan kembali nanti. Seperti sering diceritakan oleh Ki Dhalang dalam dunia pewayangan, “mangerti sangkan paraning dumadi”.


dari: wayangprabu.com

Butik Online ( tinyurl.com/TokoCewek )***TIPS n TRIK Bisnis Online ( tinyurl.com/cuma50saja )
**

Makna dibalik Pertemuan Bima dan Dewa Ruci [1]


Termangu sang Bima di tepian samudera, dibelai kehangatan alun ombak setinggi betis.Tak ada lagi tempat bertanya, sesirnanya sang naga nemburnawa.

Dewaruci, Sang Marbudyengrat, memandangnya iba dari kejauhan, tahu belaka bahwa tirta pawitra memang tak pernah ada dan mustahil akan pernah bisa ditemukan oleh manusia mana pun.

Menghampiri sang Dewa Ruci sambil menyapa, "Apa yang kau cari, hai Werkudara, hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini. Di tempat sesunyi dan sekosong ini."




Terkejut sang Bima dan mencari ke kanan kiri, setelah melihat sang penanya, lalu ia bergumam: "Makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi. Kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?"

"Serba sunyi di sini", lanjut sang Marbudyengrat. Mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini, sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya.

Sang Bima semakin termangu menduga-duga, dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa.

"Ah, paduka tuan, gelap pekat rasa hatiku. Entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini. Dan siapa sebenarnya diriku ini," tanya Bima

"Ketahuilah anakku, akulah yang disebut Dewaruci, atau sang Marbudyengrat, yang tahu segalanya tentang dirimu, anakku yang keturunan hyang guru dari hyang brahma, anak kunti, keturunan wisnu yang hanya beranak tiga, yudistira, dirimu, dan janaka. Yang bersaudara dua lagi nakula dan sadewa dari ibunda madrim si putri mandraka," jawab Sang Dewa Ruci.

"Datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang Durna, untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini." berkata Sang Dewa Ruci.

"Bila demikian, pukulun, wejanglah aku seperlunya, agar tidak mengalami kegelapan seperti ini. Terasa bagai keris tanpa sarungnya," ujar Bima.

"Sabarlah anakku,.memang berat cobaan hidup. Ingatlah pesanku ini senantiasa. Jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu, jangan menyuap sebelum mencicipinya, tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, sesuatu terwujud hanya dari tindakan. janganlah bagai orang gunung membeli emas, mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas. Bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan," berkata Sang Dewa Ruci.

"Duh, pukulun, tahulah sudah di mana salah hamba. Bertindak tanpa tahu asal tujuan. Sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka," pasrah Bima berkata.

"Nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku," lanjut sang marbudyengrat.

Sang Bena tertegun tak percaya mendengarnya.

"Ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya. Paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit. Kelingking pun tak akan mungkin muat.

"Wahai Werkudara si dungu ,anakku. Sebesar apa dirimu dibanding alam semesta? Seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku. Jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam. " jawab Sang Dewa Ruci.

Mendengar ucapan sang Dewa Ruci, sang Bima merasa kecil seketika. Dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang Dewa Ruci.

Yang telah terserap ke arahnya.

"Hai, Werkudara, katakanlah sejelas-jelasnya segala yang kau saksikan di sana," ujar Dewa Ruci.

"Hanya tampak samudera luas tak bertepi," ucap sang Bima. Alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung, tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang," ujar Bima lagi.

"Janganlah mudah cemas," ujar sang Dewa Ruci. Yakinilah bahwa di setiap kebimbangan senantiasa akan ada pertolongan dewata.

Dalam seketika sang Bima menemukan arah mata angin dan melihat surya. Setelah hati kembali tenang tampaklah sang Dewa Ruci di jagad walikan.

"Hai, Bima! Ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan," ujar Dewa Ruci.

"Awalnya terlihat cahaya terang memancar, " kata sang Bima. Kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih. Apakah gerangan semua itu?" tanya Bima.

"Ketahuilah Werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya, penerang hati, yang disebut mukasipat (mukasyafah), penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih. Cahaya empat warna, itulah warna hati. Hitam, merah, dan kuning adalah penghalang cipta yang kekal. Hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki. Hanya si putihlah yang bisa membawamu ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam. Namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain. Hanya sendiri tanpa teman melawan tiga musuh abadi. Hanya bisa menang dengan bantuan sang sukma. Adalah nugraha bila si putih bisa kau menangkan. Di saat itulah dirimu mampu menembus segala batas alam tanpa belajar.

"Duhai pukulun, sedikit tercerahkan hati hamba oleh wejanganmu," jawab Bima.

"Setelah lenyap empat cahaya, muncullah nyala delapan warna. Ada yang bagai ratna bercahaya, ada yang maya-maya, ada yang menyala berkobar," lanjut Bima.

"Itulah kesejatian yang tunggal, anakku terkasih. Semuanya telah senantiasa ada dalam diri setiap mahluk ciptaan. Sering disebut jagad agung dan jagad cilik. Dari sanalah asal arah mata angin dan empat warna hitam merah kuning putih itu. Seusai kehidupan di alam ini semuanya akan berkumpul menjadi satu, Tanpa terbedakan lelaki perempuan tua muda besar kecil kaya miskin, akan tampak bagai lebah muda kuning gading," ujar Dewa Ruci melanjutkan wejangannya.

"Amatilah lebih cermat, wahai werkudara anakku," lanjut Dewa Ruci.

"Semakin cerah rasa hati hamba," ucap Bima.

"Kini tampak putaran berwarna gading, bercahaya memancar. Warna sejatikah yang hamba saksikan itu?" tanya Bima.

"Bukan, anakku yang dungu, bukan," jawab Dewa Ruci.

"Berusahalah segera mampu membedakannya. Zat sejati yang kamu cari itu tak tak berbentuk tak terlihat. Tak bertempat-pasti namun bisa dirasa keberadaannya di sepenuh jagad ini. Sedang putaran berwarna gading itu adalah pramana yang juga tinggal di dalam raga namun bagaikan tumbuhan simbar di pepohonan. Ia tidak ikut merasakan lapar, kenyang, haus, lelah dan mengantuk dan sebagainya. Dialah yang menikmati hidup sejati dihidupi oleh sukma sejati. Ialah yang merawat raga. Tanpanya raga akan terpuruk menunjukkan kematian.

"Pukulun, jelaslah sudah tentang pramana dalam kehidupan hamba. Lalu bagaimana wujudnya zat sejati itu?" tanya Bima.



"Itu tidaklah mudah dijelaskan," ujar sang Dewa Ruci. Gampang-gampang susah.

"Sebelum hal itu dijelaskan," kejar sang Bima. Hamba tak ingin keluar dari tempat ini, Serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya.

"Itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai Werkudara," jawab Dewa Ruci.

"Mengenai zat sejati, engkau akan menemukannya sendiri. Setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala laku serta bisa bertahan dari segala goda. Di saat itulah sang sukma akan menghampirimu. Dan batinmu akan berada di dalam sang sukma sejati. Janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api, bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu. Perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya belaka. Jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini. Jangan pernah punya sesembahan lain selain sang maha luhur. Pakailah senantiasa keempat pengetahuan ini. Pengetahuan kelima adalah pengetahuan antara, yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati. Hidup yang kekal, semuanya sudah berlalu, tak perlu lagi segala aji kewijayaan, semuanya sudah termuat di sini.

Maka selesailah wejangan sang Dewa Ruci. Sang guru merangkul sang Bima dan membisikkan segala rahasia rasa terang bercahaya seketika wajah sang Bima menerima wahyu kebahagiaan.

Bagaikan kuntum bunga yang telah mekar, menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta.

Dan blassss . . . !

Sudah keluarlah sang Bima dari raga Dewa Ruci sang marbudyengrat. Kembali ke alam nyata di tepian samudera luas sunyi tanpa sang Dewa Ruci.

Sang Bima melompat ke daratan dan melangkah kembali, siap menyongsong dan menyusuri rimba belantara kehidupan.



dari: www.angelfire.com/nt2/oz2002indo/story/wejangan.htm

BERSAMBUNG KE {Makna dibalik Pertemuan Bima dan Dewa Ruci [1]}

Butik Online ( tinyurl.com/TokoCewek )***TIPS n TRIK Bisnis Online ( tinyurl.com/cuma50saja )
**

Tuesday, June 1, 2010

Amba dan Bisma (Bag. 1)

Chitrangada, putra Setyawati, tewas dalam perang melawan para gandarwa. Karena ia tidak punya anak, adiknya, Wicitrawirya, dinobatkan menjadi penggantinya. Tetapi, ketika naik tahta ia belum cukup dewasa, tampuk pemerintahan dijalankan Bhisma sampai ia cukup umur.

Ketika Wicitrawirya telah cukup dewasa, Bhisma mencarikan calon istri untuknya. Ia mendengar bahwa putri-putri raja Kasi akan memilih calon suami menurut adat istiadat kaum ksatria. Bhisma memutuskan untuk ikut atas nama adiknya. Para penguasa Kosala, Wangsa, Pundra, Kalingga, dan para pangeran lain juga mengikuti sayembara itu. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka. Putri-putri raja Kasi sangat terkenal kecantikan dan keanggunannya sehingga banyak yang ingin memenangkan sayembara itu.






Di kalangan ksatria, Bhisma terkenal sakti dan mahir menggunakan segala macam senjata. Semula orang-orang menyangka pahlawan yang sangat dihormati itu dating hanya untuk menyaksikan jalannya sayembara. Tetapi, ketika mengetahui bahwa Bhisma mengikuti sayembara, para pangeran muda itu kecut hatinya. Tidak ada yang tahu bahwa ia datang demi adiknya, Wicitrawirya.

Para pangeran berbisik-bisik, membicarakan Bhisma. Seorang berkata kepada yang lain: “keturunan keluarga Bharata terbaik dan bijaksana ini lupa diri. Ia sudah tua dan lupa pada janjinya untuk hidup sebagai brahmacarin yang seumur hidup tidak akan kawin. Untuk apa ia ikut sayembara ini? Dasar tidak tahu diri!”

Bhisma marah besar. Ia menantang semua putra mahkota untuk perang tanding dengannya. Mereka semua dikalahkan. Setelah itu, ia membawa ketiga putrid itu ke dalam kereta yang telah ia persiapkan untuk kembali ke Hastinapura. Belum jauh dari arena sayembara itu, mereka dihadang raja Salwa dari kerajaan Saubala. Raja Salwa menantang Bhisma untuk bertarung. Sebenarnya raja itu sudah menjalin kasih dengan Amba dan Amba pun secara pribadi telah memilih Salwa sebagai suami. Setelah pertarungan yang sengit, Salwa takluk. Kekalahan ini tidak mengejutkan karena Bhisma adalah pemanah yang sulit dicari tandingannya. Disebabkan permintaan para putrid, Bhisma urung membunuh Salwa.


berlanjut ke Amba dan Bisma (Bag. 2)


dari:C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.

Wednesday, May 12, 2010

SUMPAH BHISMA (bag.2 )

Suatu hari Dewabrata bertanya kepada ayahnya: “yahanda memiliki semua yang mungkin diinginkan orang. Tetapi, mengapa ayahanda tampak sedemikian murung? Sepertinya, ayahanda menyimpan rahasia yang menyesakkan hati.”

Prabu Sentanu menjawab: “Anakku, apa yang kau katakan benar. Ayahanda memang tersiksa perasan gundah-gulana. Engkau adalah anakku satu-satunya dan kau selalu sibuk dengan urusan keprajuritan. Hidup di dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan selalu saja ada perang. Jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padamu, garis keturunan keluarga kita akan putus, punah. Tentu saja, engkau sebanding dengan seratus anak. Namun demikian, para tetua cendekiawan mengatakan bahwa hidup di mayapada, dunia ini, punya satu anak sama artinya tidak punya anak sama sekali. Sungguh sayang, kelangsungan keluarga kita tergantung pada seorang anak saja. Sebenarnya, ayahanda memikirkan kelangsungan garis keturunan keluarga kita. Inilah yang menyebabkan ayah berduka.” Sang ayah berusaha menututp-nutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa malu pada anaknya.




Dewabrata yakin pasti ada alasan rahasia yang mengganggu ketenangan hati ayahnya. Kemudian, ia bertanya keapada sais kereta ayahnya. Barulah ia tahu tentang pertemuan sang ayah dengan seorang gadis penangkap ikan di pinggiran sungai Yamuna. Kemusian, ia pergi kepada kepala nelayan itu dan meminang anak gadisnya demi sang ayah.

Kepala nelayan itu menerimanya dengan hormat, tapi tetap bersikukuh dengan syaratnya: “sebenarnya anak gadis hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda paduka. Oleh karena itu, bukankah wajar jika anak lelakinya kelak akan menggantikannya menjadi raja? Tapi paduka telah dinobatkan sebagai putr mahkota dan dengan demikian akan menggantikannya. Inilah masalahnya.”

Jawab Dewabrata: “Baiklah, tolong ingat baik-baik kata-kataku, anak lelaki yang dilahirkan anak gadismu akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela tidak naik tahta demi keinginan ayahanda untuk melanjutkan garis keturunan keluarga.” Kemudian, Dewabrata mulai mengucapkan sumpahnya.

Setelah itu, kepala nelayan tersebut berucap, “Wahai , putra mahkota yang paling bijaksana di antara semua keturunan Bharata, tuan telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh para pewaris tahta sampai saat ini. Tuan memang seorang pahlawan. Silakan tuan membawa anak gadis hamba untuk diperistri ayahanda tuanku. Namun demiian, mohon tuanku terus mendengarkan dengan sabar kata-kata hamba ini sebagai ayah anak gadisku. Hamba yakin tuanku akan menepati janji. Tapi, apa yang dapat hamba gunakan untuk menguatkan harapan bahwa anak keturunan tuanku tidak akan menuntut hak mereaka? Keturunan tuanku pasti akan menjadi pahlawan-pahlawan besar, seperti tuanku. Pasti akan sulit untuk menolak jika mereka berusaha merebut kerajaan dengan paksa. Inilah permasalahan yang mengganggu pikiran hamba.”

Mendengar pertanyaan sangat sulit yang diajukan ayah gadis pujaan ayahandanya, Dewabrata, yang memutuskan untuk meninggalkan keinginan duniawi demi keinginan ayahandanya, mengucapkan sumpah pamungkas. Ia bersumpah di hadapan ayah anak gadis itu: “Aku berjanji tidak akan kawin dan akan menjalani kesucian sepanjang hidupku.” Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya, para dewa menaburkan bunga-bunga semerbak di atas kepalanya dan terdengar suara-suara yang mengelu-elukan, “Bhisma…. Bhisma… Bhisma… “ Sejak saat itu, Dewabrata dikenal sebagai Bhisma. Demikianlah, putra Batari Gangga memboyong Setyawati ke Hastinapura untuk ayahandanya.

Dari perkawinan dengan Setyawati, raja Sentanu mendapatkan dua putra, Chitrangada dan Wicitrawirya. Wicitrawirya menjadi raja menggantikan saudaranya. Wicitrawirya mempunyai dua anak, Destarata dan Pandu, dari kedua permaisuri, Ambika dan Ambalika. Anak Destarata yang berjumlah seratus dikenal sebagai Kurawa. Pandu mempunyai lima anak yang dikenal sebagai pandawa.

Bhisma menjalani kehidupan yang p-anjang. Ia dihormati sebagai sesepuh keluarga sampai perang besar di medan Kurusetra.


Bersambung ke AMBA DAN BHISMA (bag. 1 )

sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.

Tuesday, May 11, 2010

SUMPAH BHISMA (bag. 1)

Dengan riang hati, raja menyambut dan membawa sang putra ke istana. Anak yang dikelilingi aura keagungan dan kemudaan ini dinobatkan menjadi putra mahkota.

Empat tahun berlalu. Suatu hari, raja berjalan-jalan di pinggiran sungai Yamuna. Tiba-tiba udara menyebarkan keharuman yang luar biasa. Raja mencari sumber keharuman. Ternyata sumbernya berasal dari seorang gadis jelita, secantik bidadari kahyangan. Berkat kebaikan hati seorang resi, keharuman yang sedemikian luar biasa akan selalu menguar dari tubuh gadis itu dan sekarang seluruh hutan menjadi harum karena kehadiran gadis tersebut.

Sepeninggal dewi Gangga, raja Sentanu selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsu. Tetapi, kecantikan gadis itu membuatnya hilang kendali dan terbawa gairah asmara yang meluap-luap. Raja Sentanu meminang gadis itu untuk menjadi permaisurinya.




Berkatalah gadis jelita itu: “Paduka raja, namaku Setyawati. Aku seorang penangkap ikan. Ayahku kepala nelayan di daerah ini. Silakan Paduka membicarakan permintaanmu dengan ayah. Semoga dia menerima pinanganmu.” Suaranya seelok tubuhnya.

Ayah gadis itu memang cerdik.
Katanya: “Daulat tuanku, memang sudah saatnya putri hamba menikah dengan seorang lelaki, seperti gadis-gadis lain. Paduka boleh meminangnya. Namun demikian, sebelumnya hamba mohon Paduka mau berjanji di hadapan hamba.”

Kata raja Sentanu: “Apa pun syarat yang anda ajukan akan aku penuhi”

Kepala nelayan itu memohon: “Jika anak hamba melahirkan anak laki-laki, Paduka harus menobatkannya menjadi putra mahkota.”

Meskipun sedang dimabuk asmara pada Setyawati, raja Sentanu tidak dapat menyanggupi persyaratan ayah Setyawati. Ia sadar syarat itu akan berarti menyingkirkan Dewabrata, putra dewi Gangga yang seelok dew, dari posisi putr mahkota. Harga yangterlalu memalukan untuk ditanggung. Oleh karena itu, ia kembali ke istana Hastinapura. Perasaannya campur aduk tidak karuan.Raja menyimpan rapat rahasianya. Ia simpan rapat kegelisahan hatinya. Ia banyak mengurung diri dan melamun.


Bersambung ke SUMPAH BHISMA (bag. 2 )

sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencerah Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.

DEWABRATA ( bag. 3 )

Resi Wasistha berkata: “Kutuk telah terucap dan akan berlaku pada waktunya nanti. Prabhasa, wasu yang melarikan sapiku akan menjalani kehidupan yang panjang dalam kemuliaan. Para wasu lain yang segera setelah terlahir di dunia akan lepas dari kutuk. Aku tidak dapat membatalkan, tapi dapat melunakkan kutukanku.” Kemudian resi Wasistha kembali memusatkan konsentrasi pada keheningan, yang semula bergolak karena amarah. Seorang resi yang sedang bertapa brata memang mendapatkan kekuatan untuk mengutuk, tapi setiap kali ia menggunakan kekuatannya untuk mengucapkan kutukan, tingkat kesucian yang telah dicapai akan berkurang.





Mendengar itu, para wasu merasa lega. Kemudian mereka menghadap Batari Ganga dan memohon: “Sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Sudilah kiranya Batari turun ke bumi dan menikahi pria yang bermartabat. Buanglah kami ke sungai Ganggasegera setelah kami lahir. Lepaskan kami dari kutukan.” Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi dan menjadi permaisuri raja Sentanu.

Ketika dewi Gangga menhilang dan membawa bayinya yang kedelapan, raja meninggalkan semua kesenangan duniawi dan memerintah kerajaan dengan semangat asketisme. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di tepi sungai Gangga, dia melihat seorang anak laki-laki yang dilingkupi aura keagungan dan keelokan Dewandra, raja para dewa-dewi. Anak itu sedang bermain panah. Ia berulang kali melepas anak panah ke seberang sungai Gangga. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Tiba-tiba, di hadapan raja yang sedang takjub pada keelokan dan ketangkasan anak itu, Dewi Gangga menampakkan diri. Sang Dewi mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.

Katanya: “ Wahai, Paduka raja, inilah anak kita yang kedelapan. Ia sudah besar. Dia kunamai Dewabrata. Aku mengajarinya menguasai seni perang. Keaktiannya setara dengan kesaktian Parasutama. Ia telah mempelajari weda dan wedanta dari resi Wasistha. Ia juga menguasai kesenian dan ilmu yang dikuasai Sukra. Terimalah anak ini. Kelak ia akan menjadi pemanah, pahlawan, dan negarawan besar. Kemudian Batari Durga memberkahi anak itu; menyerahkan kepada ayahnya, raja Sentanu; dan menghilang.



Berlanjut ke Sumpah Bhisma (bag.1)

sumber: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.

Sunday, May 9, 2010

DEWABRATA ( bag. 2 )

“Wahai Raja yang Agung, “ jawab Dewi Gangga, “Engkau telah melanggar janjimu padaku. Hatimu telah tertambat pada anak ini. Berarti engkau tidak membutuhkanku lagi, aku akan pergi. Baiklah aku tidak akan membunuh anak ini. Sebelum menghakimiku, dengarkan penjelasanku dulu. Sebenarnya aku adalah Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia. Aku terpaksa memainkan lakon yang kejam ini karena kutuk resi Wasistha. Resi Wasistha mengutuk delapan wasu sehingga terlahir di dunia manusia. Mereka kemudian memohon kesediaanku untuk menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, aku melahirkan mereka ke dunia. Sebagai balas budi telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang lebih tingi di alam baka. Aku akan membawa anak bungsumu dan membesarkannya. Kelak, aku akan menyerahkan kembali anak ini sebagai pemberianku kepadamu.” Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayi itu. Kelak bayi ini akan dikenal sebagai Bhisma.



Beginilah, kisah mengapa kedelapan wasu terkena kutuk resi Eawistha: sutau hari mereka pergi berjalan-jalan di pegunungan bersama dengan istri-istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat sapi resi Wasistha, Nandini, sedang merumput. Keelokan Nandini sunggauh memukau dan iapun berseru kepada para istri. Mereka semua terpesona pada binatang yang mengagumkan itu. Lalu, salah satu istri meminta kepada suaminya untuk menangkap sapi tersebut.

Si suami yang diminta, menjawab: “Apa gunanya sapi itu bagi kita, para dewa? Sapi tiu kepunyaan resi Wasistha, penguasa wilayah ini. Manusia akan manusia akan menjadi abadi jika minum susu sapi itu, tapi apa gunanya bagi kita, yang telah ditakdirkan hidup abadi. Lagi pula, kita akan celaka jika resi Wasistha murka hanya karena memperturutkan hasrat dan kesenangan?”

Tapi sang istri tidak peduli. Katanya, “ Aku punya teman terkasih. Ia manusia biasa. Demi dialah, aku memintamu mengambil sapi itu. Sebelum resi Wasistha kembali, kita telah pergi jauh membawa sapi itu. Demi aku, penuhilah keinginanku ini. Ini sangat berarti bagiku.” Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan atau wasu itu bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu mereka melarikan jauh-jauh.

Ketika kembali ke pertapaan, resi wasistha tidak menemukan Nandini dan anaknya. Sapi tiu sangat dibutuhkan untuk upacara persembahan hariannya. Berkat kekuatan yoga, resi Wasistha segera tahu apa yang telah terjadi. Ia amat murka dan mengucapkan kutuk atas para wasu. Resi, yang telah meninggalkan keduniawian dan hanyamemikirkan masalah ruhani, mengutuk para wasu akan terlahir ke dunia manusia. Ketika menyadari bahwa mereka terkena kutuk –penyesalan selalu datang terlambat—para wasu segera bersimpuh di hadapan resi Wasistha untuk mohon belas kasih dan ampunan atas kesalahan mereka.


Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 3 )


dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.

DEWABRATA ( bag. 1 )

“Siapakah dirimu, wahai sang dewi, jadilah istriku.” Demikian kata Maharaja Sentanu kepada dewi Gangga yang berdiri di hadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona pada kecantikan sang dewi yang jauh melampaui kecantikan manusia biasa.

Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi. Raja berjanji akan memberikan kerajaan, kekayaan bahkan nyawanya.

Dewi Gangga
menjawab: “Paduka Raja, aku bersedia menjadi istrimu. Asalkan engkau atau siapapun tidak boleh menanyakan dari mana dan siapakah aku sebenarnya. Engkau juga tidak boleh menghalangi apa pun yang aku lakukan, baik atau buruk. Engkau tidak boleh marah kepadaku apa pun alasannya. Engkau tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuatku sedih. Jika engkau melanggar syarat-syarat itu, aku akan pergi meninggalkanmu. Apakah engkau setuju dan bersedia berjanji tidak akan melanggarnya?”




Raja yang mabuk kepayang bersumpah akan mematuhi semua persyaratan itu. Akhirnya dewi Ganga diperistri dan tingal bersama raja Sentanu.

Hati sang Raja terpikat oleh kesederhanaan, keanggunan, dan cinta dewi Gangga yang tidak pernah surut. Mereka menjalani kehidupan yang amat membahagiakan. Tidak terasa waktu berlalul sangat cepat.

Dewi Gangga melahirkan banyak anak. Setiap anak yang baru saja ia lahirkan ia bawa dan benamkan di Sungai Gangga. Kemudian ia kembali pada Raja dengan wajah berseri-seri.

Melihat tindakan istrinya yang demikian kejam, raja sentanu merasa cemas dan sangat sedih. Tapi, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati. Ia ingat pada janjinya dulu. Sering kali raja bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya permaisurinya, dari mana ia berasal, dan mengapaia bertindak seperti layaknya tukang sihir yang kejam. Karena takut melanggar sumpah dan cinta yangsedemikian besar, raja sama sekali tidak menyalahkan atau mencela perbuatan permaisuri.

Demikianlah dewi Gangga membunuh ketjuh anaknya. Ketika anak ke delapan lahir dan akan dibuang ke sungai Gangga, raja Sentanu tidak dapat menahan diri lagi.

Ia berteriak lantang: “Hentikan! Mengapa kau begitu tega melakukan tindakan kejam dan membunuh darah daging sendiri yang tidak berdosa?” Dengan kemarahan yang tertahan raja Sentanu menahan permaisuri untuk melakukan tindakan kejam itu.



Berlanjut ke: DEWABRATA ( bag. 2 )


dari: C. Rajagopalachari, 2009, Mahabharata Sebuah Roman Epik Pencera Jiwa Manusia, IRCisoD: Jogjakarta.
..::klik untuk One 4 Share versi mobile ::.. _ __